Bagi banyak orang, pertambahan usia sering kali ditandai dengan munculnya helai rambut putih atau kerutan di wajah. Namun, ada satu proses penuaan yang sering kali luput dari pandangan mata hingga rasa nyeri itu menusuk: pengapuran sendi lutut.
Dalam sebuah seminar awam bertajuk “Jangan Biarkan Lutut Membatasi Langkah Anda” yang digelar RS Adi Husada Undaan Wetan, Sabtu (23/5) dr. Faesal Abdarrab Maodah, Sp.OT (K) Hip & Knee, mengungkapkan fakta mengejutkan. Keluhan nyeri lutut ternyata menduduki peringkat kedua masalah kesehatan tulang yang paling sering dialami masyarakat Indonesia, dengan angka mencapai lebih dari 30 persen.
“Setiap orang, apalagi yang berusia di atas 40 tahun, pasti akan mengalami episode nyeri lutut,” ujar dr. Faesal. Ia menganalogikan sendi lutut layaknya komponen mesin yang akan aus seiring waktu.
Dua Sisi Penyebab Nyeri
Menurut dr. Faesal, masalah lutut umumnya berakar dari dua hal utama: cedera dan degenerasi (penuaan).
“Biasanya menimpa kelompok usia muda akibat olahraga intensitas tinggi seperti basket atau paddle yang sedang tren. Salah posisi mendarat setelah melompat bisa berakibat fatal, seperti putusnya ligamen atau robeknya bantalan sendi (meniskus),” ujarnya.
Kemudian juga Degenerasi. Ini adalah proses alami. Sama seperti rambut yang memutih, sendi pun akan mengalami penuaan atau osteoartritis.
“Bedanya, ada yang datang lebih cepat, ada yang lebih lambat,” tuturnya.
Meski penuaan tidak bisa dihindari, dr. Faesal menekankan bahwa kita bisa “memperlambat” datangnya kerusakan tersebut. Musuh terbesar lutut bukanlah usia, melainkan beban mekanik.
“Bayangkan jika berat badan seseorang naik dari 50 kg menjadi 100 kg. Seberapa besar beban yang harus ditahan lutut setiap hari?” cetusnya. Fakta medis menunjukkan bahwa saat kita jogging ringan saja, lutut menahan beban empat kali lipat dari berat badan. Jika melompat atau lari kencang, beban itu bisa melonjak hingga delapan kali lipat.
Lantas bagaimana tips menjaga “Engsel” tubuh?
Agar langkah kaki tetap ringan hingga hari tua, dr. Faesal membagikan beberapa strategi kunci. “Pemanasan adalah kunci. Sebelum beraktivitas atau berolahraga, lakukan stretching dan peregangan otot untuk menjaga stabilitas sendi,” jelasnya.
Kemudian pilih olahraga rendah dampak. Bagi mereka yang mulai merasakan keluhan, berenang dan bersepeda adalah pilihan terbaik. Kedua olahraga ini tidak memberikan beban berat pada lutut karena berat badan ditopang oleh air atau sadel sepeda.
Selanjutnya manajemen berat badan. Mengontrol porsi makan bukan sekadar untuk penampilan, tapi untuk meringankan kerja “engsel” tubuh Anda.
“Jangan memaksakan diri (overuse). Jika sudah lelah atau terasa nyeri, segera istirahat dan lakukan pendinginan,” tegasnya.
Menjaga kesehatan lutut adalah investasi jangka panjang. Dengan postur yang terjaga dan aktivitas yang terukur, masa tua tidak harus dihabiskan dengan keterbatasan langkah, melainkan dengan kebebasan untuk tetap bergerak. Bg






