Polusi Udara Menurun, Sinar UV Langsung Tekan Sebaran Corona

Belakangan sejak diterapkan sosial distancing, polusi udara di kota kota besar Indonesia menurun drastis.

Langit menjadi terang tanpa asap, udara terasa lebih segar. Pasalnya penerapan kebijakan ini membatasi pergerakan orang yang juga mengurangi asap kendaraan ketika orang berkendara. Bahkan asap dari pabrik pun juga tak ada. Saat langit bebas polusi maka sinar UV diyakini bisa langsung menekan penyebaran virus Corona.

Menekan Polusi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membenarkan bahwa kebijakan physical distancing (jarak fisik) mampu menekan angka polusi udara di kota-kota. Menurut BMKG yang sangat terlihat perbedaan itu ada di kota Jakarta.

Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto saat memberikan keterangan pers Rabu malam (8/4/2020) memaparkan, konsentrasi polutan baik debu yang beterbangan (SPM/ suspended particulate matter) maupun debu polutan ukuran <10 mikron (PM 10) pada pekan ini, selepas tanggal 26 Maret relatif menurun dibanding pekan sebelumnya.

Sinar UV

Selain itu penurunan polusi ini juga terlihat dari foto-foto dari media pers dan warganet yang memotret langit di kota-kota besar.

“Seperti udara Jakarta lebih bersih karena program phsysical distancing. Berkurangnya polusi udara bisa meningkatkan tingkat kecerahan atmosfer, sehingga matahari bisa  meneruskan sinar Ultra Violet (UV) yang berguna untuk menekan penyebaran virus corona,” terangnya.

Lebih detil Siswanto menerangkan, berkurangnya polusi udara juga meningkatkan tingkat kejernihan atmosfer. Sehingga sinar datang matahari lebih  banyak meneruskan irradians sinar UV.

“Beberapa ahli mengatakan dapat berpengaruh mampu membatasi penggandaan virus corona,” kata Siswanto.

Menurut Siswanto penurunan konsentrasi PM 10 di minggu kedua pemberlakukan physical distancing lebih besar dibandingkan pekan pertama. Rata-rata konsentrasi PM 10 pada pekan kedua menurun sekitar 2 mikron.

“Rata-rata konsentrasi di pekan I (16 – 25 Maret 2020) sebesar 38.9 mikrogram per meter kubik, sedangkan di pekan kedua (26 Maret – 4 April 2020) konsentrasi 36.8 mikrogram per meter kubik. Terdapat selisih penurunan sekitar 2 mikron,” tandasnya. 01/Bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *