Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) mendesak Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI untuk bersikap transparan dan akuntabel terkait penetapan empat prajurit sebagai tersangka dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. TAUD meminta agar Puspom TNI merilis foto keempat prajurit tersebut.
“Kami juga mengikuti perkembangan penyelidikan oleh Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI yang di waktu bersamaan menyatakan telah ‘mengamankan’ 4 orang personil TNI sebagai terduga pelaku dengan identitas Kapten NDP, Letnan Satu SL, Letnan Satu BHW, dan Sersan Dua ES,” demikian keterangan TAUD pada Senin (23/3).
Dalam keterangan tersebut, TAUD mendesak Puspon TNI untuk bersikap transparan dan akuntabel dengan merilis foto atau menunjukkan pelaku secara lansung di hadapan publik. Tujuannya, agar masyarakat dapat memverifikasi kebenarannya secara independen.
Selain itu, TAUD juga menyatakan sudah melakukan investigasi independen untuk mengidentifikasi pelaku yang terlibat dalam penyerangan terhadap Andrie. Terdapat belasan pelaku yang diduga saling berkoordinasi sebelum penyiraman air keras terjadi.
“Investigasi independen TAUD mengidentifikasi adanya belasan orang pelaku yang diduga kuat saling berkoordinasi sepanjang malam kejadian perkara sebagaimana terpantau dari kamera pengawas YLBHI,” katanya.
Mereka menilai, penyerangan ini merupakan operasi besar, terstruktur, dan terorganisasi yang digerakkan oleh pihak yang memiliki otoritas di balik penyerangan terhadap Andrie.
TAUD mendesak pihak kepolisian untuk mengungkap aktor-aktor lapangan hingga aktor intelektual terkait kasus ini.
“Kami menduga bahwa percobaan pembunuhan berencana terhadap Andrie Yunus melibatkan jaringan yang lebih besar, terlatih, dan sistematis. Oleh sebab itu, kami mendesak kepolisian untuk terus melanjutkan penyelidikan guna mencari bukan hanya aktor lapangan, namun juga aktor intelektual yang bertanggung jawab serta aktor-aktor yang memberikan dukungan operasional pada para pelaku,” katanya. Bg






