Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti mengaku
sedikitnya ada 213 laporan keluhan dan aduan yang masuk ke KPAI terkait proses belajar dari rumah atau yang disebut dengan Pembelajaran Jarak jauh (PJJ).
Tugas Maha Berat
Dari ratusan aduan itu ada tujuh aduan yang paling dikeluhkan oleh siswa pada model belajar di rumah atau PJJ tersebut.
“Salah satunya yakni penugasan yang maha berat dan waktu pengerjaan yang pendek,” ungkap Retno Rabu (29/4/2020).
Di keluhan siswa penugasan maha berat ini, Siswa SMA/SMK banyak yang ditugaskan menulis esai hampir di semua bidang studi.
Tugas Merangkum
Banyak aduan di KPAI soal tugas Merangkum ini. Menurut Retno dari survey, tugas yang paling tidak disukai anak-anak adalah merangkum bab materi dan menyalin soal di buku cetak.
Ada guru di jenjang SMP dan SMA selalu yang memberikan tugas merangkum bab baru setiap jam pelajarannya tiba.
“Ada laporan siswa kelas 4 SD ditugaskan untuk menulis bacaan shalat, mulai dari bahasa Indonesia, Arab, bahasa latin. Padahal semuanya itu ada di buku cetak,” ujar Retno.
Jam Belajar Kaku
Banyak siswa yang mengaku dapat tugas menjawab soal, tetapi harus dituliskan soalnya padahal ada di buku cetak mereka.
Tak Memiliki Kuota
Sebagian anak mengeluhkan soal tidak memiliki kuota terutama untuk pengadu yang kepala keluarganya merupakan pekerja upah harian.
“Ini jelas menjadi kendala. Pembelajaran daring ternyata juga dikeluhkan oleh anak-anak dari keluarga kurang mampu,” urainya.
Tak Punya Laptop
Keterbatasan siswa yang tidak memiliki laptop atau komputer PC juga menjadi kendala yang banyak dilaporkan selama belajar di rumah atau PJJ.
Aktifitas di Sekolah
Masih adanya aktivitas siswa dan guru di sekolah, padahal seharusnya belajar dari rumah
Menolak Bayar SPP
Aduan yang paling banyak yakni oenolakan membayar biaya SPP bulanan secara penuh karena siswa belajar dari rumah bersama orang tua. 01/Bagus






