Komitmen Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi dalam meningkatkan perlindungan kesehatan jamaah haji mulai menunjukkan hasil positif.
Kemudahan izin operasional Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) disebut berhasil menekan angka kesakitan hingga kematian jamaah secara signifikan pada musim haji 2026.
Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyampaikan hal tersebut usai melakukan visitasi ke fasilitas KKHI di Makkah serta memberikan pengarahan kepada ratusan tenaga kesehatan haji.
Menurutnya, beroperasinya fasilitas klinik hingga tingkat sektor menjadi ujung tombak pelayanan darurat menjelang fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Hingga kini, hampir 10 ribu jamaah telah mendapatkan penanganan medis akibat kelelahan maupun risiko serangan panas (heatstroke).
Dahnil menjelaskan, kelancaran operasional KKHI berdampak langsung pada percepatan intervensi medis terhadap jamaah yang mengalami gangguan kesehatan. Hal itu dinilai menjadi faktor utama turunnya angka kematian dibandingkan tahun sebelumnya.
“Secara statistik tahun ini akibat komitmen dari pemerintah Saudi Arabia dan kita, penurunannya signifikan. Kalau tahun lalu per tanggal ini sudah 120 orang yang meninggal, tapi tahun ini sampai dengan hari ini hanya sekitar 50 orang,” ujar Dahnil kepada Tim Media Center Haji, Jumat (22/5/2026).
Meski demikian, pemerintah tetap mengingatkan seluruh petugas dan jamaah agar mewaspadai peningkatan kasus kesehatan menjelang fase Armuzna. Kemenhaj menyoroti fakta bahwa angka kematian justru banyak terjadi pada jamaah usia produktif, bukan kelompok lanjut usia.
“Yang wafat itu kebanyakan justru bukan lansia, yang wafat itu justru yang umur-umur 50-an atau 40-an. Karena merasa sehat, kemudian memaksakan kegiatan, akhirnya tidak terasa tumbang,” katanya.
Temuan tersebut, lanjut Dahnil, menegaskan bahwa indikator kelaikan berhaji tidak hanya ditentukan usia, tetapi juga kondisi kebugaran dan kesiapan fisik jamaah. (Ym)






