Insiden hilangnya jemaah haji Indonesia yang ditemukan wafat memicu sorotan tajam dari Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI.
Diketahui, Firdaus Akhlan, seorang jemaah haji dari Kelompok Terbang (Kloter) JKG 27, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah sebelumnya sempat dilaporkan tersesat dan hilang.
Menanggapi peristiwa tersebut, Anggota Timwas Haji sekaligus Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang menyampaikan rasa prihatin dan miris yang mendalam. Ia menilai kejadian ini mengindikasikan adanya kelemahan dan pengabaian dalam sistem pengawasan jemaah di lapangan.
“Ini tentu bagi kita sangat prihatin dan miris. Ada jemaah yang hilang, begitu diketemukan sudah dalam keadaan meninggal. Kalau terkait dengan nyawa manusia, rasa-rasanya kok seperti terabaikan,” ujar Marwan Dasopang kepada Parlementaria di Makkah, Sabtu (23/5/2026).
Marwan sangat menyayangkan insiden ini bisa terjadi, mengingat pemerintah telah memberangkatkan banyak petugas terlatih untuk melayani jemaah di Tanah Suci.
“Padahal kita punya petugas yang dikirim ke sini dan terlatih. Ada jemaah tersesat, tidak tahu kembali seperti apa, itulah yang membuat kita miris. Urusan meninggal memang bukan urusan kita (takdir), tapi urusan meninggal karena kelalaian, wah itu memprihatinkan sekali. Ini tidak boleh terjadi,” tegas Politisi Fraksi PKB ini.
Sebagai langkah evaluasi dan pencegahan, Marwan mengimbau seluruh petugas haji untuk lebih cermat dalam memetakan kondisi fisik dan mental setiap jemaah. Ia mendesak adanya pemilahan yang jelas antara jemaah yang bisa beraktivitas mandiri dengan jemaah yang membutuhkan pendampingan melekat, khususnya kelompok lanjut usia (lansia).
“Saya mengimbau para petugas kita harus cermat dan dipilah-pilah. Mana yang kategori didampingi terus, ya harus didampingi. Masa dibiarkan lansia bergerak sendiri? Tidak bisa bertanya, tidak bisa membaca, bahkan kemampuan untuk bergerak sudah tidak memungkinkan,” papar Marwan.
Timwas DPR RI mengingatkan agar tragedi jemaah tersesat tidak terulang kembali, terlebih fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) sudah di depan mata. Menurut Marwan, kepadatan jemaah di titik-titik krusial tersebut akan jauh lebih ekstrem, sehingga menuntut kesiapsiagaan penuh dari seluruh komponen petugas haji Indonesia.
“Ini tidak boleh terjadi lagi, apalagi besok. Karena di Arafah suasananya seperti lautan manusia, begitu juga di Muzdalifah dan di Mina menuju Jamarat. Ini harus hati-hati, para petugas diaktifkan, semua disiapkan agar tidak ada lagi jemaah yang tersesat,” pungkasnya. (Ym)






