Press "Enter" to skip to content

Selain Halal, Kosmetik Harus Bisa Menembus Kulit

Sertifikat halal pada produk kosmetik sangat penting untuk memastikan tubuh tidak terkontaminasi bahan-bahan yang diharamkan secara agama Islam. Sebab bahan-bahan ini sekaligus menjadi penentu ibadah seorang Muslim diterima Allah.

BEBAS NAJIS

Menurut Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika, (LPPOM)  MUI, Mutti Arintawati,  bahan yang banyak digunakan dalam kosmetik yakni seperti unsur dari babi, anjing atau binatang buas dan manusia, darah, bangkai, serta alkohol.

Menurut dia, kosmetik ini jadi penting karena tidak bisa lepas saat shalat.

“Jadi memang harus dipastikan semua yang digunakan bebas dari najis. Bayangkan kalau ketika ada bahan najis itu. Tidak diterima salatnya,” kata Muti memberikan keterangan pers kepada majalahnurani.com.

Baca juga  MUI Haramkan Politik Uang 

TANDA HALAL

Dipaparkan Muti bahwa jumlah kosmetik di Indonesia saat ini yang halal masih tertinggal dibanding produk makanan.

Disebutkan, LPPOM MUI mencatat pada 2016 terdapat 48 perusahaan dengan total 5.254 produk kosmetik halal dan pada 2017 sebanyak 64 perusahaan dengan total 3.219 produk. Hingga Maret 2018, sudah tercatat terdapat 41 perusahaan dengan total 2.115 produk bersertifikat halal.

Oleh karena itu Muti mengimbau agar masyarakat Indonesia khususnya muslimah yang menggunakan kosmetik harus tetap waspada. Pastikan ketika membeli produk kosmetika ada tanda halalnya.

“Label halal ini jadi penanda bahwa produk kosmetik sudah memiliki sertifikat halal yang berarti boleh digunakan oleh seorang Muslim sesuai fatwa MUI,” urainya.

Baca juga  Usia Tua, Haji Atau Umrah Dulu?

Ada yang perlu diingat bahwa kosmetik itu tak hanya halal saja. Tapi juga kosmetika hsrus bisa membuat air wudu meresap ke dalam kulit.

Selain bahan yang halal, kosmetika juga harus dapat membuat air wudhu meresap ke dalam kulit.

Saat perusahaan mendaftarkan sertifikat ke LPPOM, maka tim audit menguji produk di laboratorium termasuk menguji untuk air wudhu. LPPOM MUI juga mengunjungi pabrik pembuatan produk kosmetik.

“Mulai dari registrasi, mengunggah dokumen, pemeriksaan hingga audit ke pabrik. Tidak cukup hanya dengan memeriksa produk kosmetik di laboratorium saja, tapi juga harus dilihat proses pembuatannya,” tandasnya. 01/bagus

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *