Press "Enter" to skip to content

MUI: Pemerintah Harus Menindak Penyelenggara Bagi-bagi Sembako

Peristiwa tewasnya dua korban anak di acara bagi-bagi sembako, Monumen Nasional (Monas), pada Sabtu (28/4/2018) lalu banyak yang menyayangkan. Termasuk politisi Eggy Sudjana yang mengkritik keras.

Dia menyebut jika Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersikap diskriminatif pada umat. Dari pengamatannya, banyak pelanggaran di acara tersebut.

Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Cholil Nafis kepada majalahnurani.com akhirnya angkat bicara. Dia memang menyesalkan kejadian pada pemberian sembako beberapa waktu lalu di Monas, Jakarta. Cholil menegaskan, kepada penyelengara, apapun yang sifatnya santunan, pemberian gratis agar diorganisir dengan baik.

“Jangan sampai memberi  makanan ke masyarkat, tapi masyarakat malah jadi korban,” ujarnya.

BERTINDAK TEGAS

Baca juga  Tertangkap, Muncikari Prositusi Online: Daripada Ndak Makan

Dia berharap kepada pemerintah agar ketika memberi izin, lebih teliti. Harus diketahui apa programnya, lalu bisa diberi izinya. Kalau melanggar terhadap izin yang diberikan, maka  pemerintah bertindak tegas.

“Jangan sampai pemerintah pura pura tidak tahu. Karena pemerintah berkewajiban melindungi rakyat ini,” sambungnya.

Selain itu, diharapkan pula masyarakat tidak tergiur dengan kata-kata gratis berupa santunan, lalu di sisi lain melupakan aspek keselamatan.

“Oleh karena itu,  peristiwa yang  terjadi di Monas itu menjadi pelajaran bagi kita,” ungkapnya.

Untuk itu MUI berharap pemerintah segera bertindak. Cari penyelenggaranya dan proses secara hukum. Menurut dia, pemerintah harus bisa mendidik umat dengan cara mengembangkan potensi bukan memberi santunan sembako. Mengembangkan potensinya bagaimana agar bisa mencari sembako sendiri dan mengembangkan dirinya.

Baca juga  Kunjungi Smamda Surabaya, Dubes Inggris Kampanye English for Indonesia

“Jangan hanya diberi iming-iming sembako tanpa meningkatkan sumberdaya manusia,” sarannya.

JANGAN DIKAITKAN POLITIK

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof Istibsyaroh mengatakan, tewasnya bocah itu karena takdir. Dia mengimbau jangan sampai masyarakat berpikiran bahwa peristiwa itu dikaitkan dengan sedekah politik.

“Bukan  sedekah yang berpolitik tapi memang takdir,” tuturnya dikonfirmasi majalahnurani.com

Prof Istib tak menampik jika jelang Pilkada memang banyak yang bersedakah. Menurutnya itu wajar. Dikatakan bahwa pemberian sembako tersebut merupakan sedekah dan itu ikhlas. Disarankan agar masyarakat tidak boleh suuzon kepada penyelenggaranya.

Prof Istib pun mendoakan dua anak yang mebjadi korban serta pemberi sembako bisa bertambah rizkinya.

“Semoga dua anak itu selalu dalam ridha Allah kendati di kubur. Dan yang memberi sedekah makin bertambah rizkinya,” tandasnya.01/ Bagus

Baca juga  Muhammadiyah Angkat 40 Tema dalam Muktamar

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *