Press "Enter" to skip to content

MUI Minta TV Siarkan Tayangan Edukatif Selama Ramadhan

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tak ingin ada tayangan tv selama Ramadhan yang tidak mendidik.

Bahkan KPI bersama MUI mewajibkan stasiun televisi agar membuat program yang sarat dengan nilai-nilai Islami. Bukan tayangan biasa yang bisa ditonton kapan saja.

“Kami mencatat di tahun 1998 salah satu stasiun televisi itu menjadi pioner televisi yang nuansanya nuansa komedi tapi karena banyak mendengar anjuran MUI, anjuran KPI bahwa yang namanya sahur itu buat umat Islam sangat sakral maka jangan dibuat guyonan jangan dibuat lawakan apalagi joget yang orang pakai jilbab bahkan jilbab syari joget-joget saat sahur,” kata Anggota Tim Pemantau Tayangan Ramadhan MUI, Elvi Hudriyah,  dalam keterangan pers di Gedung KPI, Jakarta.

Baca juga  Khofifah Doakan Jokowi di Ulang Tahun ke-59

HIJRAH

Karena itu, dia berharap pada bulan Ramadan kali ini banyak masyarakat hijrah pada kebaikan usai mendapat tayangan yang bermanfaat dari televisi.

“Mari sama-sama kita di bulan Ramadan ini diisi dengan tayangan-tayangan yang dimana orang ketika melihat tayangan yang disiarkan ini ada sebuah perubahan ada hijrah. Jadi bukan sekedar menghibur, menghibur hanya sesaat tapi kalau hijrah itu insya Allah lama dia bukan cuma masuk ke dalam otak tapi ke dalam hati,” lanjut Elvi.

NILAI IBADAH

Menurut dia, tak hanya di bulan Ramadan tetapi di bulan lainnya KPI  juga mencoba untuk mengayomi, menggiring, dan mengajak industri pertelevisian untuk menayangkan program yang mendidik.

Elvi menilai jangan sampai nilai sakral bulan Ramadan tergerus oleh tayangan-tayangan televisi yang sangat jauh dari nilai ibadah. Kebanyakan stasiun televisi hanya berlomba meraih rating tertinggi. Padahal televisi memiliki peran yang penting dalam mewarnai suasana bulan suci.

Baca juga  DPR Siapkan Aturan Agar Visa Furodah Legal

“Masyarakat kita digiring pada situasi sahur yang tidak sakral, yang akhirnya maaf generasi kita salah paham. Ini menggeser nilai kesakralan dalam sebuah ibadah dan mohon ini menjadi catatan bahwa ada jam-jam di saat umat Islam harus melaksanakan ibadah dengan khusyuk dan ini harus didukung oleh media,” urainya.

Ramdhan tahun ini, Elvi mengajak industri penyiaran untuk berlomba menayangkan program yang edukatif dan bermanfaat di bulan Ramadan. Dia juga berharap masyarakat bisa tersentuh dengan tayangan-tayangan Islami, tidak hanya di bulan Ramadan tapi juga setelahnya.

“Media ini luar biasa kalau media mengajak kebaikan media masuk surga. Kalau media ngajak kebaikan lalu orang tersentuh lalu orang mengikuti kebaikan yang diajak media ini, itu lah jalan masuk surga. Sebaliknya kalau kita menyiarkan program yang membawa orang berbuat kemaksiatan karena melihat tayangan yang anda tayangkan, siapa yg duluan masuk neraka? Media duluan baru yang ngikutin. Ini artinya media akan mendapatkan reward yang luar biasa bukan hanya dari manusia tapi dari Allah SWT,” pungkasnya. 01/Bagus

Baca juga  Mapel Sejarah Tak Masuk Kurikulum, Kemendikbud: Tidak Benar

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *