by

Puasa Arafah, Ikut Waktu Arab atau Indonesia?

 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau agar umat tetap mengikuti ketentuan pemerintah jika ingin menjalankan puasa Arafah.

Sebagaimana diketahui bahwa ada selisih waktu Indonesia dan Arab. Karena inilah kadang masyarakat jika ingin menjalankan puasa Arafah sedikit bimbang untuk menentukan waktunya. Harus tepat mengikuti wukuf ataukah sesudahnya.

IKUT PEMERINTAH

Wakil Sekertaris Komisi Fatwa MUI Ustad Irfan Helmi menjelaskan,  penetapan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode ru’yah dan hisab oleh Pemerintah RI yakni menteri Agama dan berlaku secara nasional.

“Oleh karena itu seluruh umat Islam di Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah tentang penetapan awal  Dzulhijjah,” tutur dia, Selasa (14/8/2018).

Bahkan dalam menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah, Menteri Agama wajib berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam dan Instansi terkait.

Baca juga  Jumat Berkah, Polresta Mojokerto Berbagi Bansos Ke PKL

Maka itu, MUI mengusahakan adanya kriteria penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah untuk dijadikan pedoman oleh Menteri Agama dengan membahasnya bersama ormas-ormas Islam dan para ahli terkait.

Ini bisa dijadikan pedoman umat Islam Indonesia jika ingin menjalankan puasa Arafah.

“Fatwa syaikh Utsaimin (Ulama Saudi) sendiri menganjurkan untuk ikut ketetapan pemerintah masing-masing. Berdasarkan hadits yang berbunyi Idul Adha adalah hari raya kalian berkurban bersama ulil amri (pemerintah) kalian_(Muttafaqun alaih),” tandas dia. 01/Bagus

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed