Rumah Tangga Pusat Diklat Pembinaan Mental dan Spritual

Oleh
Amirsyah Tambunan, Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dosen Pascasarjana FAI UMJ dan Wakil Ketua Majelis Wakaf PP Muhammadiyah

Dalam suasana wabah pandemi Covid 19, orang bersama anak banyak menghabiskan waktu dirumah. Ini momentum untuk mendidik anak untuk penguatan mental dan spritual.

Sebaliknya, jika semua keluarga berkumpul dirumah tidak memanfaatkan waktu mendidik anak, maka ini merupakan pertanda bahwa keluarga menghadapi masalah serius. Bisa karena faktor pemahaman agama yang rendah, juga faktor kesulitan ekonomi. Ketika anak anaknya mau makan sementara tidak ada nafkah dari orang tua, maka orang tua dan anak anaknya bisa mencari jalan pintas melakukan hal hal yang tak kita inginkan.

Untuk itu, kita semua bertanggung jawab cara mendidik anak yang sejalan menurut Islam. Dengan mengajarkan dasar-dasar Islam pada tahap awal mengenalkan anak pada Allah SWT.

Disebutkan bahwa pada usia 3 tahun, ajarkan kalimat Tauhid “LAILA HA ILLALLAH, MUHAMMADAR RASULLULLAH”.

“Bukalah lidah anak-anak kalian pertama kali dengan kalimat Lailaha-illaallah. Dan saat mereka hendak meninggal dunia maka bacakanlah, Lailaha-illallah. Sesungguhnya barangsiapa awal dan akhir pembicaraannya Lailah-illallah, kemudian ia hidup selama seribu tahun, maka dosa apa pun, tidak akan ditanyakan kepadanya”. (H.R Ibnu Abbas).

Hal ini dapat dilakukan dengan memberi contoh dan mengajarkan shalat,
ilustrasi shalat. Cara mendidik anak menurut Islam berikutnya dengan memberi contoh dan mengajarkan shalat. Sejak balita sudah membiasakan anak untuk mengambil air wudhu dan mengikuti gerakan salat, meskipun belum benar sama sekali.

Jika anak sudah terbiasa melihat orangtuanya salat dan meniru setiap gerakannya, kelak akan lebih mudah untuk diajari.

“Suruhlah anak-anakmu shalat ketika berumur tujuh tahun, pukulah mereka jika meninggalkannya setelah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Shalat dapat ditegakkan dengan mengajarkan Tauhid.
Tauhid sebagai dasar yang kuat, sehingga orang tua tidak khawatir kemanapun anak pergi.

Jadi Al Qur’an mengabadikan ketika Lukman mendidik anaknya dengan Tauhid yang kuat. Sebaliknya bisa disebut zalim ketika mansekutukan Allah.

Selanjunya Nabi Muhammad SAW menanamkam Tauhid, melalui adzan dari sang ayah atau kakeknya.

“Dari Abu Dawud dan Tirmidzi Aku telah melihat Rasulullah SAW mengazankan Al-Hasan bin Ali pada telinganya saat dilahirkan oleh Fatimah dengan azan seperti azan salat”. (HR. Tirmidzi).

Juga mengajak anak untuk mulai mengenal puasa sejak dini, kira-kira pada usia 6 tahun sudah mengajarkan bangun sahur. Sebagian masyarakat Indonesia menggunakan cara puasa setengah hari dan berselang seling, selanjutnya puasa penuh seharian.

Tanamkan pada anak segala manfaat dan berkah dari berpuasa. Ketika anak kita sudah terbiasa untuk berpuasa, lama-lama akan lebih mudah baginya untuk puasa Ramadhan penuh tanpa setengah hari lagi.

Cara mendidik anak menurut Islam selanjutnya dengan memberi nama panggilan yang baik. Nama merupakan sebuah doa dari orangtua demi masa depan buah hatinya.

Bentuk mencintai, mendidik, dan menghormati anak melalui nama panggilannya. Dalam sebuah hadis dikatakan: “Hormatilah anak-anakmu dan perhatikanlah pendidikan mereka karena anak-anakmu sekalian adalah karunia Allah kepadamu” (HR Ibnu Majah).

Cara lain yang efektif dengan membacakan Kisah Nabi dan Para Suri Tauladan
Cara mendidik menurut Islam selanjutnya, sempatkanlah waktu untuk membacakan kisah para suri tauladan, seperti para Nabi, Luqman, ashabul kahfi, sahabat Nabi dan sebagainya.

Membiasakan doa sekaligus mengucap bersikap sederhana
Membiasakan anak untuk bersikap sederhana merupakan salah satu penerapan dari tauladan Rasulullah SAW. Beliau begitu istimewa di mata umat muslim, malaikat, dan bagi Allah.

Cara mendidik anak berikutnya dengan memperhatikan siapa saja lingkungan pergaulan anak kita.

Rasulullah bersabda: “Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api”.

Jika anak Anda berteman dengan lingkungan yang positif, tentu akan membawa aura yang baik ke depannya.

Abu Ayyub mengatakan, bahwa Rasulullah pernah bersabda : “Barang siapa memisahkan antara seorang ibu dan anaknya, niscaya Allah akan memisahkan antara dia dan orang-orang yang dicintainya pada hari kiamat”.

Selanjutnya QS Annisa 9 menegaskan:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Lemah fisik dan mental merupakan ke khawatiran kita. Jika ini kita biarkan sangat berhaya masa depan anak.

Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Ajarkan Berkata Jujur dan Menepati Janji

Cara mendidik anak menurut Islam berikutnya dengan membiasakan berkata jujur dan bisa menepati janji. Hal ini akan terus tertanam hingga dewasa untuk menjadi pribadi yang baik dunia dan akhirat.

Demikian juga ajaran Islam menekankan kebersihan seperti kebiasaan mencuci tangan, thaharoh, dll.

“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan (termasuk kebersihan dan kerapihan)”. (HR. Muslim )

Dalam konteks itu pentingnya memberi kasih sayang pada anak dari dalam kandungan hingga dewasa merupakan bentuk mendidik anak menurut Islam. Kasih sayang dalam bentuk kata-kata, perbuatan, dan tanggung jawab.

Untuk mencegah anak dari prilaku kekerasaan sexual, maka penting mengajarkan anak menutup aurat.
Ajarkan anak untuk menutup aurat sejak dini supaya mengenal siapa saja yang bukan mahramnya, serta tanamkan manfaat menutup aurat.

Demikian juga mulai memisahkan tempat tidur anak untuk memiliki kamar sendiri. Terutama bagi anak laki-laki dan perempuan, kemudian ajarkan mengenai perbedaan di antara keduanya. Hal ini supaya kelak anak Anda tidak mudah goyah terhadap nafsu lawan jenis agar kelak dewasa tidak melakukan penyimpangan sexual seperti LGBT.

Doa kita sebagai orang termasuk cara mendidik anak, memberi contoh pada mereka bahwa kasih sayang juga bisa dicurahkan melalui kalimat doa. Tertuang dalam kitab suci al-Quran surah al-Furqon ayat 74 : “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Orangtua harus tega dalam Membatasi ketika anak bermain gadget. Jangan membiarkan anak menggunakan gadget agar tidak kecanduan. Mari kita selamatkan aqidah anak kita dengan memperhatikan al. Qur’an

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ
يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau memperskutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.’” Lukman ayat 13

Semoga Allah SWT memberikan hikmah Ramadhan kepada keluarga kita menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.

*) Diringkas dari Kultum Ramadhan 1441 H di siyarkan TV MU Tanggal 26 April 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *