Amien Rais Pendiri PAN yang Terusir dari “Rumah” Sendiri

Keputusan Ketua Umum Partai Amanat Nasioanal, Zulkifli Hasan (Zulhas) yang tidak memasukkan nama Amien Rais dalam kepengurusan Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2020-2025 bikin loyalis Amien Rais marah. Polemik di tubuh partai berlambang matahari itu kian menguat setelah Hanafi Rais, Putra Amien Rais memutuskan mundur dari kepengurusan PAN dan DPR RI. Benarkah Amien Rais, Sang Pendiri PAN telah terusir dari “Rumahnya” Sendiri?

Amien Rais benar-benar tergeser dari partai yang pernah didirikannya itu. Di Kepengurusan hasil Kongres PAN nama Amien tak masuk lagi. jabatan Ketua Dewan Kehormatan PAN yang sebelumnya dijabat Amien berganti orang. Zulhas, menunjuk sosok Soetrisno Bachir.

Selain itu mundurnya Hanafi Rais seolah memberikan kepastian bahwa terjadi perpecahan di tubuh PAN. Hanafi mengaku, pengunduran diri itu diambil setelah menilai bahwa PAN melewatkan momentum untuk memperbaiki diri lebih bijaksana dalam berorganisasi dan bersikap. Dia berkata kecenderungan melakukan konformitas terhadap kekuasaan, sekalipun didahului dengan kritik-kritik bukan sikap yang adil di saat banyak kader serta simpatisan menaruh harapan agar PAN menjadi antitesis dari pemegang kekuasaan.

“Hanya ridha Allah yang saya tuju. Mohon maaf lahir dan batin atas segala kekurangan saya. Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan saya dan kita semua,” tulis Hanafi dalam suratnya.

KECEWA PAN
Terdepaknya Amien Rais mengindikasikan akan lahir partai baru, PAN Reformasi. Ketua DPW PAN Sulawesi Barat, Muhammad Asri Anas, yang juga loyalis Amien Rais mengatakan, pembentukan PAN reformasi akan terus berlanjut, meski kepengurusan DPP di bawah kepemimpinan Zulkifli Hasan sudah dibentuk.

Asri menyebut sudah menemui Amien Rais di kediamannya di Yogyakarta bersama sejumlah pengurus daerah PAN yang ingin membentuk kekuatan baru.

“Kami minggu lalu 15 DPD dan DPW itu menghadap Pak Amien di Yogyakarta. Dan mengenai wacana, bukan lagi wacana PAN Reformasi, kami diminta untuk mempersiapkan. Tapi sementara saat ini kami masih konsolidasi,” kata Asri saat itu.

Asri mengungkapkan, pihaknya sudah meyakinkan Amien Rais bahwa PAN Reformasi paling lambat akhir tahun 2020 ini sudah bisa dibentuk. Asri sendiri juga mengaku akan mengundurkan diri dari Ketua DPW PAN Sulbar.

Sementara itu Politisi senior PAN, Putra Jaya Husin, mengungkapkan niat itu didasari lantaran banyak kader senior merasa organisasi yang kini dipimpin Zulkifli Hasan sudah melenceng.

Menurut dia, banyak kader sudah mantap menginginkan ‘kendaraan baru’ untuk memperjuangkan tujuan politiknya ke depan.

“70 persen lah (persiapan bentuk partai baru). Tapi kemunduran Hanafi ini mempengaruhi percepatan pembentukan partai baru,” kata Putra ketika dikonfirmasi, Rabu 6 Mei 2020.

Putra bilang, mundurnya Hanafi yang tak lain putra kandung pendiri partai Amien Rais bukan bermaksud berancang-ancang mempersiapkan sempalan baru untuk PAN. Hanafi, kata Putra, dianggap sudah pada titik kekecewaannya kepada partai yang baru berdiri di era reformasi ini.

Merepons kabar mundurnya Hanafi, Ketua DPP PAN yang juga adik kandung Hanafi, Ahmad Mumtaz Rais mengaku sangat menghormati keputusan Hanafi untuk mundur.

“Kami institusi PAN menghormati keputusan beliau yang mundur, karena tentu sudah dipikirkan dengan baik. Akan tetapi, sebagai rekan berpartai sungguh kami sangat menyayangkan keputusan tersebut karena kedewasaan dalam berpolitik tidak ditunjukan oleh saudaraku, Hanafi Rais,” ujar Mumtaz dalam keterangannya, Rabu (6/5).

Menurut Mumtaz, seharunya Hanafi bisa lebih bijaksana dalam menyikapi kontestasi politik, khususnya terkait hasil Kongres PAN ke-V Kendari. Kata Mumtaz, tidak perlu ada kekecewaan lantaran Zulkifli Hasan telah memenangkan suara secara sah dan terlegitimasi.

Bagi Mumtaz, kemenangan mertuanya adalah kemenangan mutlak. Hal itu ditandai dengan selisih suara yang sangat telak, yakni 106 suara.

Mumtaz lantas mengingatkan Hanafi, agar tidak egois memikirkan kepentingan pribadi atau golongan saja. lebih baik, lanjut Mumtaz, Hanafi bisa memikirkan kepentingan rakyat dan bangsa, lebih-lebih di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Putra ketiga Amien Rais ini menyarankan agar Hanafi dapat mencontoh sikap bijaksana senior-seniornya di PAN, seperti Hatta Rajasa, Soetrisno Bachir, Drajad Wibowo, dan Asman Abnur.

DISAYANGKAN

Terpisah, Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi membantah putra pendiri PAN Amien Rais, Hanafi Rais, mengundurkan diri dari keanggotaan partai. Viva mengatakan dalam surat yang dilayangkan Hanafi ke DPP PAN, Hanafi hanya menyatakan mundur dari kepengurusan DPP PAN dan dari anggota Fraksi PAN DPR RI.

“Mas Hanafi Rais tidak mundur sebagai anggota PAN. Jadi dapat dikatakan bahwa mas Hanafi adalah tetap sebagai anggota dan kader PAN,” kata Viva, Rabu (6/5).

Juru Bicara PAN itu juga membantah jika pengunduran diri Hanafi merupakan buntut konflik internal. Viva berkata Hanafi memiliki peran penting dalam partai. Meski begitu, Viva menyampaikan PAN menghargai keputusan Hanafi. Dia berujar PAN tak akan membatasi hak politik setiap kadernya.
“Setahu saya, ketua umum PAN Bang Zulkifli Hasan sangat sayang kepada Mas Hanafi Rais. Hal itu tercermin dari sikap bang Zul,” tuturnya.

Pecahnya PAN juga dibantah Zulhas. Zulhas menegaskan sejauh ini tak ada perpecahan meski dalam Kongres V lalu sempat terbelah. Saat ini, baik pendukungnya maupun kubu yang mendukung calon lain telah kembali bersatu.

GAGAL KONSOLIDASI
Peneliti Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Aisah Putri Budiatri menilai, dengan mundurnya Hanafi Rais sangat mungkin muncul partai sempalan dari PAN. Setidaknya ada dua faktor besar mengapa partai ini bisa pecah.

Pertama, keluarnya Hanafi memperlihatkan kegagalan PAN melakukan konsolidasi pasca Kongres V yang memecah dua kubu. Friksi antara kelompok pemenang yaitu Zulkifli Hasan dan kelompok yang kalah, Mulfachri Harahap yang dibekingi Amien Rais, terus berlanjut.

“Perpecahan ini meninggalkan kubu Zulhas di dalam PAN, dan kubu Rais keluar partai,” ujar Aisah kepada wartawan, Rabu (06/5).

Kemudian, dengan keluarnya Hanafi dari pengurus PAN, maka menguatkan posisi Zulkifli Hasan di PAN. Makin terlihat kekuatan Amien Rais sebagai tokoh sentral melemah.

“Keluarnya Hanafi Rais, menguatkan posisi Zulhas sebagai penguasa terkuat di PAN dan sesungguhnya menunjukkan bahwa kekuatan Amien Rais semakin lemah di dalam PAN,” kata Aisah.

Sementara itu Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirajuddin Abbas mengatakan, Partai Amanat Nasional (PAN) gagal melakukan rekonsiliasi pasca-kongres di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Februari 2020.

“Mestinya setelah kongres yang panas itu, masing-masing pihak, seperti Zulkifli, Hatta Rajasa, dan Soetrisno Bahir berupaya merangkul Pak Amien Rais. Mereka jelaskan situasinya,” ujarnya, Rabu (06/05)

Dia menilai, Amien Rais bertahan dengan egonya untuk tetap berada pada posisi dominan di tubuh PAN. Namun, hasil kongres kemarin membuat dirinya dan pendukungnya terpental. “Dia kalah, egonya terganggu,” ucap Sirajuddin.

Kegagalan rekonsiliasi diakibatkan sikap politik elite-elite PAN yang berusaha memperbaiki hubungan dengan pemerintah. Meski berada di luar pemerintahan, Zulkifli dikenal punya hubungan baik dengan pemerintah.

“Sejak awal pemilihan presiden ada upaya dari Zulkifli untuk memilih pragmatis dan mendekat ke pemerintahan Jokowi. Itu tidak mungkin dilakukan seadainya Amien masih memegang kontrol di PAN,” tuturnya.

MEMECAH SUARA PAN
Konflik internal PAN, menurutnya, menandai awal goncangan di politik Islam modernis. Selama ini PAN merepresentasikan basis-basis Islam modern perkotaan. Pendukungnya berasal dari Muhammadiyah, Persis, dan kaum berpendidikan tinggi. Jika Hanafi Rais keluar dengan cara seperti ini, akan menaikkan keraguan basis pemilih terhadap masa depan politik PAN sendiri.

Setelah kongres, kubu Amien Rais menggaungkan pembentukan partai baru. Upaya ini tentu akan memancing semakin banyak loyalis Amien yang keluar dan memecah basis suara PAN yang solid di Islam perkotaan.

Pembentukan partai baru juga bisa menjadi perjudian mengingat sulitnya partai-partai baru menembus parliamentary threshold pada pemilu lalu. Sirajuddin menilai, pada tahap awal bisa digunakan untuk kebutuhan bargaining power.

“Seberapa yakin dengan inisiatif membangun partai dan seberapa siap secara ekonomi untuk keluar dari kenyamanan. Partai baru ini belum tentu mendapatkan dukungan publik meskipun dipimpin oleh tokoh senior,” pungkasnya. 01/ym

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *