Peringatan Nuzul Al Qur’an: Kesalehan Sosial

Oleh :
Amirsyah Tambunan
Wakil Sekjen MUI
Sekjen ADI Pusat

Dewasa ini masyarakat Indonesia tengah menghadapi banyak masalah di era pandemi covid 19. Protokol medis mengharuskan kita membuat jarak fisik dalam bentuk (social and fisical distancing) hendaknya membuat kepedulian sosial semakin meningkat.

Seorang sosiolog terkemuka Ibnu Khaldun telah memberikan
kontribusi dalam pengembangan peradaban dunia,
khususnya umat Islam. Konsep dan teori yang tertuang dalam bukunya Muqaddimah, telah memberikan inspirasi para intelektual barat maupun Islam dalam membangun peradaban.

Sejarawan Inggris, A.J. Toynbee menyebut Muqaddimah sebagai karya monumental yang sangat berharga. Bahkan Misbâh al-
Âmily menjadikan pemikiran Ibnu Khaldun sebagai variable
dalam melakukan studi komparatif antara pemikiran Arab dengan
pemikiran Yunani.

Di samping itu, banyak sosiolog, filosuf,
sejarawan dan ahli politik yang memuji kehebatan dan keluasan
wawasannya.
Ibnu Khaldun secara konsisten membumikan makna al-Qur’an dalam mengembangkan konsep sosiologi sejalan dengan prinsip Islam.

Konsep asobiah yang dinukil dari qur’an surat Al hujarah ayat 13. Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja’alnākum syu’ụbaw wa qabā`ila lita’ārafụ, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr. Ia mengembangkan konsep masyarakat dengan teori ashobiyah yg kuat menjadi tatanan negara yang kuat.

Dengan dasar pemikiran tersebut menurut penulis al-Qur’an telah diturunkan secara nyata bukan hanya pelajaran kepada umat manusia, tetapi juga obat, petunjuk dan rahmat bagi orang beriman. Al – Quran surat Yunus 57.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ :

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Berbagai problem yang dihadapi umat manusia di muka bumi. Untuk mengatasi problem tersebut Allah Maha mengetahui agar manusia dapat memberikan solusi atas masalah tersebut. Untuk itu Allah memerintahkan dalam al Qur’an secara tegas:

Pertama, fungsi al Qur’an menjadi pengajaran dalam kehidupan sosial. Banyak pengajaran yang di berikan Allah kepada manusia agar kehidupan manusia bebas dari kesenjangan sosial. Kesenjangan kaya dengan miskin yang semakin nyata terutama dalam menghadapi pandemi covid 19. Betapa banyak masyarakat mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari hari. Sudah sepatutnya umat Islam menjadikan nuzul Qur’an sebagai momentum untuk meningkatkan kepekaan sekaligus kepedulian sosial melalui zakat, infaq dan shodaqah.

Kedua, Al Qur’an sebagai penyembuh penyakit. Penyakit sosial seperti di sebutkan diatas hendaknya dapat menjadi perhatian serius bagi umat manusia tanpa membedakan agama, suku bangsa. Pendek kata meyakini al Qur’an sebagai obat penawar bagi yang membaca, menghayati dan mengamalkan makna ayat tersebut. Sebaliknya membaca al-Qur’an hanya sebatas ritual saja, akan tetapi tidak paham maknanya, apalagi membaca tidak dengan dasar iman dan taqwa kepada Allah.

Ketiga, al-Qur’an sebagai petunjuk (hudan) agar manusia tetap berada di jalan yang benar. Salah satu kelemahan manusia adalah mudah terpengaruh kepada hal-hal yang menyimpang dari prinsip agama. Dalam konteks sosial manusia di ciptakan Allah sebaik-baik ciptaan untuk membentuk tatanan umat terbaik (khaira ummah).
Qs Ali Imran ayat 110. كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Namun kebanyak manusia fasik karena tidak membekali hidup dengan dasar iman, ilmu dan amal saleh.

Keempat, al-Qur’an diturunkan berfungsi sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Namun fakta sosial masih banyak kehidupan kehidupan masyarakat yang belum beruntung baik secara ekonomi maupun sosial politik. Hal ini terjadi banyak faktor diantaranya belum sejajar antara pranata sosial dengan kekuatan ekonomi masyarakat.

Konsep ekonomi dalam hal jual beli atau tijarah merupakan pintu rezeki amat sangat luas, karenanya umat harus di dorong berniaga yang halal dan baik (thoyyib).

Mengapa Allah membuka pintu rezeki yang luas bagi yang melakukan jual beli ? Karena dalam Islam memberikan penjelasan yang tegas, lugas tentang jual beli yakni terbagi menjadi dua, yaitu : secara bahasa dan secara istilah.

Secara bahasa, jual beli berasal dari kata al-bay’u yang memiliki arti mengambil dan memberikan sesuatu. Ada juga yang mengartikan sebagai aktivitas menukar harta dengan harta.

Kata al-bay’u adalah turunan dari kata al-bara yang memiliki arti depa. Mengapa depa? Karena pada saat itu orang arab mengulurkan depa mereka saat melakukan transaksi jual beli yang kemudian diiringi dengan saling menepukkan tangan sebagai pertanda bahwa seluruh transaksi/akad telah berjalan dengan lancar dan telah terjadi perpindahan kepemilikian secara halal dan thoyib.

Adapun secara istilah, jual beli dalam Islam adalah transaksi tukar menukar yang memiliki dampak yaitu bertukarnya kepemilikan (taqabbudh) yang tidak akan bisa sah bila tidak dilakukan beserta akad yang benar baik yang dilakukan dengan cara verbal/ucapan maupun perbuatan. Pengertian ini dirujuk pada kitab Taudhihul Ahkam.

Berdasarkan empat poin diatas, upaya menciptakan kesalehan sosial wajib hukumnya, berdasarkan kekuatan imam, sebab setiap umat Islam, wajib hukumnya beriman sejalan dengan prinsip rukun iman.
Meningkatkan keimanan kepada Allah
SWT merupakan prinsip dasar untuk memperoleh rahmat Allah.

Dengan adanya nuzulul Quran atau memperingati turunnya quran, maka sudah seharusnya umat muslim membaca Al – Quran agar selalu dirahmati Allah SWT dan mendapatkan perlindungan dari malaikat. Membuat seseorang berperilaku mulia.

Nuzulul Quran juga dapat mengubah perilaku manusia yang tadinya kurang baik atau tidak bagus, maka dengan adanya nuzulul quran maka akan membuat seseorang tersebut menjadi seseorang yang berperilaku mulia dan terpuji.

Dengan demikian peringatan nuzul Al-Qur’an dapat membuat seseorang menjadi lebih tenang pikirannya, dan tidak selalu memikirkan dunia yang hanya sementara ini, orang yang mengamalkan dan mengerjakan nuzulul quran maka tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu dalam hidupnya untuk melakukam amal sosial agar terwujud kesalehan sosial.

Hadits Tentang Keutamaan mempelajari Al-Quran.

Dalam kitab Shahihnya, Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Hajjaj bin Minhal dari Syu’bah dari Alqamah bin Martsad dari Sa’ad bin Ubaidah dari Abu Abdirrahman As-Sulami dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

Semoga nuzul qur’an 17 Ramadhan 1441 / 10 Mei 20 bangsa kita mampu mewujudkan kesalehan sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *