Press "Enter" to skip to content

Ulul Albab: Solusi Mengatasi Covid -19

Oleh
Dr. Amirsyah Tambunan *)

Setiap peristiwa ada hikmahnya. Pandemi Covid 19 mestinya membawa hikmah. Salah satu hikmahnya bagi para intelektual -al-Qur’an menyebut (ulul al-bab) adalah menjadi lahan menelitian para ilmuan untuk menemukan obat dan vaksin.

Dengan kata lain bagi para ilmuan (ulul al-bab) melihat semua masalah membawa hikmah. Sebaliknya menghadapi masalah, dengan cara menyelesaikan maslah justru membawa hikmah.

Dengan begitu, Allah menciptakan sesuatu tidak ada yang sia-sia.

Tapi tidak semua orang bisa menangkap pelajaran dari setiap peristiwa. Namun Allah memberikan salah satu ke istimewaan bagi kaum ulul al-bab, baik kaum ulama maupun cendikiawan.

ULUL ALBAB

Al-Quran menyebut ulul albab bagi orang yang mampu menangkap dan membuktikan tanda-tanda kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya.

Tak terkecuali makhluk bernama SARS-CoV-2—Virus Corona penyebab Covid-19 sudah sepatutnya para ilmuan (ulama, cendikiawan) mampu menemukan anti virus berupa vaksin melalui penelitian. Allah berfirman:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ :

Arab Latin: inna fī khalqis-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfil-laili wan-nahāri laāyātil liulil-albāb.

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ali Imran 190)

Bagi kaum ulul al- bab Virus Covid-19 adalah medan amal untuk lebih memahami ayat-ayat kauniah yang terdapat di alam semesta: bumi, langit, dan apa yang ada di antara keduanya, termasuk Virus Covid-19.

Makhluk kecil semacam nyamuk atau lebih mikro lagi—katakanlah Virus Corona ini—adalah ciptaan Allah sehingga dijadikan amsal, misal, contoh, atau perumpamaan.

Seperti dalam surat al-Baqarah 26, “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.

Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka.” sebaliknya bagi orang yang engkar, hanya bahan olok-olokan saja.

Seperti kita saksikan dunia saat ini saling tuding, “mempertontonkan” kesulitan mengatasi Covid-19, dengan kepentingan perang dagang antara China dengan AS berserta Negara sekutunya.

Bagi kita umat Islam wajib meyakini Islam sebagai solusi, mengutip ungkapan – Ketua Umum MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa menyerukan kepada Umat Islam agar menerapkan gaya hidup Islami atau dikenal dengan Islamic Life Style.

Baca juga  Ujian, Musibah: Hikmah Rahasia Allah

Buya Gusrizal Gazahar Dt Palimo Basa mengatakan Perbedaan yang mendasar antara New Normal dengan Gaya Hidup Islami adalah dari cara pandang terhadap penyebab bencana.

Menurut Buya, Perspektif Islam dalam melihat bencana, tidak terkurung dalam konsep causality semata tapi juga ada aspek “kemaksiatan”. Karena itu, kita akan melihat new normal akan meneguhkan gaya hidup baru yang berorientasi kepada kesehatan fisik dan pemulihan ekonomi tanpa peduli dengan aspek-aspek lain yang juga menjadi penyebab terjadinya bencana dalam perspektif Islam. Islam merupan jalan mengatasi Covid 19.

Karena itu kehadiran Islam merupakan rahmat bagi sekalian alam memberikan solusi melalui para ilmuan (ulul al-bab). Secara umum ciri ulul al-bab dalam
Al-Quran menyebut dua ciri yakni:

Pertama, orang yang selalu mengingat Allah (berdzikir) dalam keadaan apapun: berdiri, duduk, atau berbaring.

Kedua, orang yang berfikir (bertafakur) tentang segala ciptaan Allah. Setiap ciptaan Allah pasti mempunyai kelemahan dan kelebihan. Sebab yang Maha sempurna hanyalah Allah Swt.

Dalam konteks ini, Virus Covid-19 bisa menjadi lahan bagi ulul albab untuk berpikir dan berdzikir agar selalu ingat pada Allah bahwa semua fenomena di alam semesta ini tak lepas dari-Nya. Berfikir untuk menaklukkan makhluk ciptaan Allah agar kemaslahatan kehidupan manusia dapat terwujud.

Menurut hasil kajian para ilmuan salah satu kelemahan Covid-19 mati pada suhu panas 70 C dan kelebihannya mudah menular di kerumunan banyak orang, lewat mulut, mata dan hidung.

Oleh karena itu kelemahannya terkena air mudah hilang, maka harus sering cuci tangan pakai sabun. Untuk itu pola hidup zaman Orde Baru 4 sehat 5 sempurna harus di budayakan kembali sejalan dengan ajaran Islam dalam bentuk lain yakni: (1) keluar rumah pakai masker, (2) sering cuci tangan, (3) jaga jarak (social and fisical distancing), (4) olahraga teratur/istirahat/ tidak panik, dan (5) makan makanan bergizi halal-baik (halalan toyiba).

Dalam konteks itu agar manusia sadar bahwa Allah hidup dan menghidupkan makhluknya. Allah selalu mencipta. Dan Virus Covid-19 adalah bukti bahwa Allah masih berkreasi, sampai kini. Diciptakannya virus itu, karena Allah ingin mengingatkan, ‘manusia’ jangan lupa (berdzikir) kepada-Ku. Karena aku masih ada dan berkuasa.”

Baca juga  MUI Haramkan Mudik di Tengah Wabah Corona

Selain membuat manusia tersentak— menyadari kembali hakikat keberadaan Allah— di mana Virus-19 adalah lahan penelitian manusia untuk merumuskan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran.

Bukan hanya soal vaksin dan obat baru yang akan ditemukan, tapi Virus Covid-19, akan menciptakan peradaban baru yang disebut kehidupan normal yang baru (new normal) adalah membuka kembali aktivitas sosial-politik, ekonomi, hukum, dll sehingga manusia dapat beraktivitas kembali secara normal dengan menggunakan prorokol medis yang ketat.

Oleh sebab itu bagi ulul albab, tidak ada yang sia-sia, di mana Virus Covid-19 bukan untuk dikutuk, tapi untuk ditaklukkan. Virus bukan untuk diajak berdamai, tapi di lawan (perang) agar manusia tidak di taklukkan virus Covid-19. Jadi virus tersebut harus bisa di-ditundukkan (sakhara), atau dijinakkan oleh manusia.

Doktrin dalam Islam misalnya terinspirasi dari surat Ibrahim ayat 31, “Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu.

Dan Dia Allah telah menundukkan (sakhara) bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”

Sebagai khalifah, manusia telah diberi modal berupa alam semesta. Maka tugas manusia memakmurkan ciptaan-Nya itu. Untuk itu manusia harus menggunakan akalnya dalam memahami alam semesta yang telah ditetapkan kadar-kadarnya (ditakdirkan). Dari situlah lahir ilmu pengetahuan dan teknologi.

Puncak Pencarian Ulul Albab bagi ilmuan setelah berdzikir dan berpikir itulah ulul albab akan menemukan kesejatian hidup.Ternyata semua yang diciptakan Allah tidak sia-sia. Semua mengandung hikmah, pelajaran, dan manfaat, termasuk Virus Covid-19.

PENGUATAN SPIRITUAL

Maka dalam surat al-Mulk ayat 3-4 Allah meyakinkan tidak ada yang cacat (futur) atau tidak sempurna dalam ciptaan-Nya.
Namun, siapa sangka ternyata Allah swt. menghendaki keterbatasan dalam penglihatan manusia sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya Surah al-Mulk ayat 3-4.

Baca juga  Ramadhan Tahun Ini, Adzan Pertama Kali Berkumandang di Negara Bagian AS

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ

ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang (cacat). Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”

Bahkan untuk kembali meyakinkan, Allah mengulang lagi pernyataannya, “Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”

Menyadari semua ciptaan Allah mengandung hikmah bagi kaum ulul albab, lalu tersungkur di bawah ‘telapak kaki Tuhan’. Dengan sangat indah Allah menggambarkan itu untuk memperkuat spritual manusia dengan dasar keimanan dan ketaqwaan kepada Allah dengan berdoa:

“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Surat Ali Imran 191 itu menggambarkan puncak pencarian ulul albab. Setelah menemukan ilmu pengetahuan, dia tidak menyombongkan diri. Atau menggunakan ilmu pengetahuannya untuk merusak alam semesta.

Mereka justru mengakui ke-Mahasuci-an Allah sambil berdoa agar dijauhkan dari siksa api neraka. Salah satu kunci dijauhkan dari api neraka adalah mengakui kebesaran Allah.

Pandemi Covid-19 menyadarkan kita, betapa manusia tak berdaya tanpa kuasa-Nya. Oleh makhuk kecil berukuruan mikron saja manusia rontok, belum lagi Covid 19 bermetamorposa menjadi Covid-20.

Manusia ternyata super ringkih tanpa kekuatan Allah (Laa haula walaa quwwata illa billah). Tiada daya dan upaya kecuali dari Allah. Itulah makna terpenting diciptakannya Virus Corona penyebab Covid-19.

Semoga Allah menjadikan kita manusia ulul albab. Amin (*)

  • ) Ringkasan materi disampaikan acara silaturrahmi Syawalan 1441 H lewat Virtual bersama Forum Komunikasi Warga Muhammadiyah Dosen UIN 27 Mei 2020

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *