Press "Enter" to skip to content

LGBT : Merusak Nilai Kemanusiaan

Oleh:
Amirsyah Tambunan
Wakil Sekjen MUI & Sekjen Asosiasi Dosen Indonesia (ADI)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak masyarakat untuk berhenti menggunakan produk Unilever dan beralih ke produk lain.
Hal ini dilakukan oleh MUI karena Unilever telah memberi dukungan terhadap gerakan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ+).

Hal senada Asosiasi Dosen Indonesia
(ADI) menyerukan kepada sejumlah civitas akadenika perguan tinggi agar melakukan hal yang sama.

Saya selaku wakil sekjen bidang informasi dan komunikasi (infokom) MUI juga menyatakan bahwa kampanye pro-LGBT yang tengah gencar dilakukan Unilever sangat menyesatkan. Dan kita sangat kecewa pada keputusan Unilever untuk mendukung kaum LGBT.

Saya lihat Unilever ini sudah kebablasan. Kalau ini terus dilakukan, saya yakin ormas-ormas Islam bersama MUI melakukan gerakan anti-Unilever atau menolak Unilever, dan kita menghimbau masyarakat untuk beralih pada produk lain.

Kita akui Unilever ini memang perusahaan terbesar tapi bukan berarti kita tidak bisa beralih ke produk lain, dan sekarang kesempatan bagi produk lain untuk mengambil posisi.

Unilever merupakan perusahaan yang berbasis di Amsterdam, Belanda, pada 19 Juni 20 resmi menyatakan diri berkomitmen mendukung gerakan LGBTQ+. Hal tersebut disampaikan melalui akun Instagram.

Baca juga  Tak Pakai Masker di Banyumas Akan Didenda 7 Ribu

Sekali lagi kami menyesalkan sikap tersebut karena di Indonesia LGBT merupakan praktik yang bertentangan dengan nilai Pancasila yakni kemanusiaan yang adil dan beradab.

Anehnya, Unilever juga telah membuka kesempatan bisnis bagi LGBTQ+ sebagai bagian dari koalisi global. Selain itu, Unilever meminta Stonewall, lembaga amal untuk LGBT, untuk mengaudit kebijakan dan tolok ukur bagaimana Unilever melanjutkan aksi ini.

FATWA MUI

Maraknya kelompok Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Intersex and Questioning (LGBTIQ) membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah lama angkat bicara. Hingga saat ini 119 lembaga di 29 Provinsi telah melakukan aktivitas LGBT. MUI mengharamkan seluruh aktivitas LGBT di Indonesia.

Terhadap segala bentuk kegiatan seperti promosi terhadap LGBT MUI tegas menolak segala bentuk promosi terhadap dukungan legislasi, dan perkembangan LGBT di Indonesia.

MUI mengatakan LGBT itu haram dalam agama Islam dan juga agama-agama samawi lainnya. Selain itu, LGBT juga bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 Pasal 29 ayat 1 serta Pasal 28J tahun 1974 tentang perkawinan.

Baca juga  Buka IEF, Diknas Jatim Ajak Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Aktivitas LGBT jelas dan tegas bertentangan dengan Fatwa MUI nomor 57 tahun 2014 tentang Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan. Dalam fatwa ini dinyatakan bahwa homoseksual baik lesbian maupun gay dan sodomi hukumnya adalah haram.

LBGT dan aktivitas seksual menyimpang dan menyesatkan merupakan bentuk kejahatan kemanusiaan. Oleh karena itu kepada para pelakunya dapat dikenakan hukuman oleh pihak yang berwenang.

MUI mendukung pemerintah dan KPAI dan semua pihak untuk melarang masuknya dana asing yang diperuntukkan bagi kampanye sosialisasi serta dukungan LGBT di Indonesia yang dilakukan pihak manapun. Termasuk organisasi internasional maupun perusahaan internasional.

MUI telah mendorong pemerintah agar segera mensahkan undang undang dalam RUU KUHP yang melarang beragam bentuk aktivitas LGBT.

Mendorong proses legislasi dan peraturan perundangan yang pada intinya memuat, menegaskan pelarangan terhadap aktivitas LGBT dan aktivitas seksual yang menyimpang lainnya dan menegaskan sebagai kejahatan seksual.

SIAP MEMBINA

Aktivitas LGBT adalah merupakan suatu penyakit yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan dapat menjadi sumber berbagai penyakit yang menular. Untuk itu MUI bersama lembaga seperti ADI siap membantu pemerintah dan instansi terkait lainnya untuk melakukan edukasi, rehabilitasi kepada siapa saja yang memiliki aktivitas sex menyimpang.

Baca juga  Mudik Dilarang, Kemenhub Siapkan Skema Penutupan Akses

Siapapun yang memiliki aktivitas sex menyimpang seharusnya diedukasi dan MUI bersama pemerintah siap membantu melakukan pembinaan juga bersama ormas Islam dan para ahli, dosen, dll.

Merupakan suatu keharusan adanya rehabilitasi, edukasi, advokasi bagi setiap orang yang memiliki kecenderungan seks menyimpang untuk dapat kembali kepada ajaran Agama. MUI menegaskan, tidak ada satu pun ayat dan hadis yang membolehkan aktivitas LGBT. Jika ada para pelaku yang mengatakan ada ayat dan hadis yang membolehkan LGBT, maka itu adalah memalsukan dan menodai Al-Qur’an dan hadis. Ayat-ayat di palsukan dan ditafsirkan secara menyimpang (soal LGBT) dapat di kenakan pidana karena melakukan penodaan agama sesuai UU PNPS Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *