Covid-19 Sebabkan Ribuan Pasutri Cerai, MUI Beri Kunci Agar Tetap Harmonis

Selama masa pandemi virus Corona (Covid-19) angka perceraian meningkat drastis. Penyebabnya yakni faktor ekonomi. Istri tak tahan lantaran suami tak mempunyai penghasilan. Bahkan baru-baru ini di Bandung, viral video yang memperlihatkan antrean panjang seseorang yang menggugat cerai suaminya.

Pengadilan Agama (PA) Soreang yang mengurus proses perceraian makin antri panjang. Ini terjadi di wilayah Kabupaten Bandung.

PENDAFTARAN DITUTUP

Mulai Senin (24/8/2020), PA Soreang menjalani proses sidang gugatan cerai lebih dari 150 kasus.

“Tingkat perceraian sangat tinggi di Kabupaten Bandung terutama pada bulan Maret, April sampai Mei (2020),” kata Ahmad Sadikin, Panitera Muda Gugatan Pengadilan Agama Soreang.

Ahmad menjelaskan, pada bulan Mei 2020 lalu, saking tingginya tingkat perceraian PA Soreang bahkan menutup sementara pendaftaran gugatan cerai.

Baca juga  Besok Sejumlah BEM Gelar Aksi Turunkan Harga Bahan Pokok dan BBM

“Pada bulan Mei sempat ditutup sama sekali sampai dua minggu. Setelah itu kota batasi yang daftar hanya 10 orang,” jelasnya.

PA Soreang sempat kewalahan melayani sidang gugatan cerai di bulan Juni 2020.

“Imbasnya bulan Juni 2020 masuk di atas 1012 gugatan cerai. Biasanya berkisar 700 sampai 800 gugatan cerai per bulan,” bebernya.

Di bulan Agustus ini, lanjut Ahmad, total gugatan cerai yang sudah masuk mencapai 500 lebih gugatan. Meski tidak sebanyak bulan juni, Ahmad mengatakan jumlah tersebut masih bisa terus bertambah.

“Total 592 gugatan sampai hari ini. Masih bisa bertambah karena ini baru tanggal 24,” ungkapnya.

ASPEK RELIGIUS

Wakil Ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zahrotun Nihayah, memberikan saran agar suasana di dalam rumah tangga tetap harmonis di tengah pandemi Covid-19. Menurut dia, kuncinya adalah meningkatkan aspek religiusitas.

Baca juga  Besok Sejumlah BEM Gelar Aksi Turunkan Harga Bahan Pokok dan BBM

“Aspek religiusitas hendaknya kita tingkatkan. Karena mungkin sesungguhnya Allah memperingatkan kita semua bahwa keluarga kita mungkin masih abai, kurang peduli terhadap anak dan pasangan,” kata dosen sekaligus Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat (28/8/2020).

Situasi tersebut, sebetulnya menjadi kesempatan untuk melakukan berbagai hal yang positif bersama anak dan pasangan serta sanak keluarga yang lain di dalam rumah. Selain itu, dia juga mengingatkan untuk selalu mengelola emosi secara baik.

Menurut Zahrotun, diperlukan pengelolaan emosi secara baik dalam sebuah keluarga meski dihadapkan pada situasi yang sulit sekali pun. Setiap anggota keluarga harus memahami situasi yang sedang terjadi sehingga muncul rasa saling mengerti satu sama lain.

“Termasuk juga kesehatan yang perlu dijaga, karena kesehatan ini juga menjadi salah satu pangkal preventif yang membuat orang bisa menjadi lebih sehat,” ujarnya.

Baca juga  Besok Sejumlah BEM Gelar Aksi Turunkan Harga Bahan Pokok dan BBM

Zahrotun mengatakan, perlu kekuatan jiwa, fisik dan mental yang kuat agar diri tetap tenang dan memiliki kemampuan mengelola emosi serta bisa menerima situasi ini dengan sebaik-baiknya.

“Kalau tidak sabar, tidak tenang, yang dipicu aspek sosial ekonomi, manajemen diri dan emosi yang kurang baik, keadaan pandemi ini bisa bikin orang galau dan sebagainya,” ujar dia.

Setiap Muslim harus meningkatkan pendekatan dirinya kepada Allah SWT. “Insya Allah kita bisa menjadi benteng penjagaan preventif maupun terapi kuraitf untuk bisa tetap, tegar, dan kuat di dalam keluar, ini harus dihadapi bersama-sama, harus disadari semua anggota keluarga,” tegasnya. Bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *