Press "Enter" to skip to content

Disomasi karena Tweet Soal Makam Gus Dur, Politikus Demokrat Minta Maaf dan Beri Klarifikasi

Politikus Partai Demokrat (PD) Rachland Nashidik disomasi Barisan Kader (Barikade) Gus Dur karena kicauannya soal makam Gus Dur. Rachlan awalnya mencuit tentang tanggapannya soal pembangunan museum Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang ramai dibicarakan warganet.
Wwarganet yang menyebut pembangunan museum itu tidak tepat memakai anggaran negara di saat pandemi virus Corona (COVID-19) masih mewabah di Indonesia. Rachland pun kemudian membalasnya kembali dengan membandingkan makam Gus Dur.
“Pertama, bukan museum keluarga. Kedua, inisiatif pendanaan datang dari Pemprov–itu juga cuma sebagian. Terbesar berasal dari sumbangan dan partisipasi warga. Ketiga, sebagai pembanding, Anda tahu makam Presiden Gus Dur dibangun negara?” cuit Rachland sembari mencantumkan tautan berita sebuah media online tentang makam Gus Dur.
Cuitan Rachland tersebut menuai reaksi dari Barikade Gus Dur, yang menilai pernyataan tersebut sangat tendensius. Mereka menyebut makam Gus Dur sepenuhnya dibiayai keluarga inti.
Menyikapi itu, Rachland meminta maaf dan memberikan klarifikasi. Rachland mengatakan tweet-nya soal makam Gus Dur didasarkan pada informasi yang dia baca dari sebuah situs berita yang tautan artikelnya telah dilampirkan. Dia sudah membaca isi artikel itu, yang potongan isinya menjelaskan bahwa pemerintah melengkapi kawasan makam Gus Dur dengan berbagai fasilitas, seperti tempat parkir, kamar mandi, museum, perpustakaan, pagar, bahkan perluasan jalan.
“Poin saya, negara atas dasar penghargaan terhadap Presiden Gus Dur memikirkan agar makam Gus Dur mendapat fasilitas yang memudahkan warga yang berziarah. Perhatian tersebut diekspresikan dalam rapat kabinet yang menyepakati kawasan makam akan dibuat senyaman mungkin,” kata Rachland kepada wartawan, Sabtu (20/2/2021).
“Saya sudah membaca ulang twit saya dan menyadari bahwa tanpa membaca berita itu, netizen bisa salah mengerti, bahwa yang dibangun bukanlah makam itu sendiri, melainkan fasilitas publiknya. Meski tidak juga bisa dibantah bahwa fasilitas yang melengkapi makam itu dibangun Negara sebagai wujud penghormatan kepada Presiden Abdurrahman Wahid. Saya memohon maaf,” kata Rachland.
Lebih jauh Rachland menjelaskan dia menganggap dirinya sebagai murid Gus Dur dalam ajaran kebinekaan dan demokrasi. Dia adalah anggota pengurus Forum Demokrasi yang dahulu dipimpin Gus Dur.
“Hubungan personal kami juga dekat, bahkan beliau adalah salah satu dari beberapa senior yang menyumbang bagi biaya pernikahan saya, 1996, di samping Adnan Buyung Nasution, Rahman Tolleng, dan Sjahrir,” ujarnya.
Saat Gus Dur wafat, Rachland melanjutkan, sebagai Direktur Eksekutif Imparsial, lembaga pengawas HAM, dia menyampaikan pernyataan yang dikutip oleh media bahwa wafatnya Gus Dur adalah kehilangan tak terkira bagi bangsa Indonesia, bagi perjuangan pluralisme, serta kebebasan beragama. Dia menegaskan dirinya memiliki kedekatan dengan Gus Dur. Ym

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *