by

Sudahkah Kematian Menjadi Nasehat Kita?

Bismillah….
Saudaraku, akhir akhir ini hampir setiap hari kita mendapat berita kematian. Apakah itu saudara, teman, tetangga atau bahkan salah satu dari anggota keluarga kita. Bahkan secara nasional setiap hari tercatat ada 1.400 an kematian karena wabah corona.
Dalam keadaan seperti ini kita ingat pesan Rasulullah yang singkat tetapi sangat mendalam maknanya.
Rasulullah SAW bersabda :
وَكَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا
Artinya “Dan cukuplah kematian menjadi nasehat.(HR Baihaki)
Dalam hadits di atas, seolah Rasulullah mengingatkan kepada umatnya, bahwa sekaya apapun kamu, sesukses apapun karirmu, sepandai apapun kamu, setinggi apapun pangkat dan kedudukanmu, sekuat apapun badanmu, sebanyak apapun hartamu, ingat ya, seperti ini lho nanti kamu, terbujur kaku dan tidak berdaya alias meninggal dunia. Hendaklah kamu mengambil nasehat dan pelajaran dari kematian itu. Sebab manakala kamu tidak bisa mengambil pelajaran dari kematian, niscaya nasehat apapun tidak akan berguna bagimu.
Belakangan viral ada seorang pengusaha sukses yang kaya luar biasa dan wafat karena covid. Pesawat pribadinya yang banyak, dan mobil mewahnya yang jumlahnya menyamai show room, ternyata tidak bisa menolong bahkan ditinggalkan begitu saja. Tidak ada satu obatpun yang bisa menyembuhkan seseorang dari Kematian.
Karena itu Rasulullah memerintahkan kita untuk banyak mengingat kematian, karena sesungguhnya dalam kematian itu banyak nasehat. Berikut beberapa nasehat yang akan kita peroleh dari sebuah kematian.

Baca juga  DR H NUR ARIFIN, M.Pd, Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama RI: Ikhlas Menjadi Kunci Sukses

BANYAK BERSYUKUR
Kematian itu berarti waktu hidup di dunia telah habis. Artinya, segala kenikmatan duniawi yang diberikan oleh Allah SWT tidak bisa lagi dinikmati.
Oleh sebab itu, dengan mengingat mati seseorang akan lebih bersyukur atas kehidupannya. Bersyukur bahwa Allah masih memberikan kesempatan hidup baginya untuk menikmati apa yang dia miliki saat ini.
Rasulullah Saw bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehipannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Al Baihaqi).

MUKMIN CERDAS
Semua orang ingin meninggal dunia dalam keadaan yang baik atau husnul khatimah. Untuk mencapainya, umat Muslim harus meningkatkan keimanan kepada Allah dengan berbagai cara, misalnya memperbanyak ibadah, sering beramal, dan sebagainya. Itulah ciri mukmin yang cerdas.
Orang yang banyak mengingat kematian tentu akan selalu berusaha mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Sebab, tak sedikit orang yang bertemu ajalnya sebelum menyiapkan bekal berupa amal ibadah.
Dalam sebuah hadis Rasulullah menyatakan bahwa mukmin yang banyak mengingat mati dan mempersiapkan bekal inilah yang dikatakan sebagai mukmin yang cerdas.
“Dari Ibnu Umar bahwa dia berkata: Saya bersama dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar kepada beliau, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bertanya; “Ya Rasulullah, bagaimanakah mukmin yang utama?” beliau menjawab: “Orang yang paling baik akhlaknya.” Dia bertanya lagi; “Orang mukmin yang bagaimanakah yang paling cerdas?” beliau menjawab: “Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Baca juga  DR H NUR ARIFIN, M.Pd, Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama RI: Ikhlas Menjadi Kunci Sukses

KHUSUK SHALAT
Manfaat lain dari mengingat kematian adalah kita bisa lebih khusyuk dalam beribadah terutama shalat.
Salah satu cara untuk khusyuk dalam shalat adalah dengan banyak mengingat kematian. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam salatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti salat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan salat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami)

SERIUS BERIBADAH
Rasulullah bersabda:
“Ingatlah pada kematian. Demi yang jiwaku dalam genggamannya, seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR Ibn Abi al-Dunya)
Hadis di atas seolah mengingatkan kepada kita agar dalam hidup ini harus serius. Serius untuk menjadi hamba Allah yang Muttaqin. Serius untuk menjadi hamba Allah yang terbaik. Karena sesungguhnya tujuan akhir hidup kita adalah husnul khatimah. Tidak main main dalam beramal di dunia karena pertaruhannya adalah surga dan neraka yang abadi selama lamanya di sana.

Baca juga  DR H NUR ARIFIN, M.Pd, Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama RI: Ikhlas Menjadi Kunci Sukses

Saudaraku, semampang hayat masih dikandung badan, marilah kita siapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menyempurnakan perjalanan keabadian itu.
Marilah kita mencoba merenungi sisa-sisa umur kita, muhasabah pada diri kita masing-masing.
Sekarang marilah kita tanyakan kepada diri kita masing-masing. Apakah kematian sudah menjadi penasehat bagi kita?
Semoga bermanfaat…..

Senin 26 Juli 2021
Nur Cahya Hadi, Direktur Majalahnurani.com

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed