by

PTM Terbatas, Wali Kota Mojokerto Dorong Guru Mengajar dengan Inovatif dan Kreatif

Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dalam PTM (Pembelajaran Tatap Muka) terbatas tingkat SD dan SMP di Kota Mojokerto, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto menggelar kegiatan Sosialisasi Program Prioritas Pendidikan oleh Wali Kota Mojokerto yang diikuti 108 Kepala Sekolah, serta guru dari SMPN 4 dan SMPN 9 Kota Mojokerto, yang digelar di Aula SMPN 4 Kota Mojokerto, Rabu (15/9) sore.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Mojokerto, Amin Wachid mengatakan, sejumlah program sudah dilakukan oleh Wali Kota Mojokerto. Antara lain menaikkan kesejahteraan Guru, biaya sekolah gratis dan pemberian seragam, tas sepatu, alat tulis gratis serta angkutan sekolah gratis bagi siswa baru untuk tingkat SD dan SMP.
“Ini bagi siswa yang sekolah di kota Mojokerto, baik negeri maupun swasta,” ujarnya.

Wali Kota Mojokerto, Hj Ika Puspitasari

Sementara itu, Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari menyebut telah menyiapkan berbagai skema pendidikan maupun stimulus untuk siswa dan guru agar capaian kurikulum siswa dan SPM (Standar Pelayanan Minimal) pada tahun ajaran baru ini terpenuhi.
Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota memaparkan, dari hasil penelitian disebutkan bahwa selama hampir dua tahun terjadi pandemi covid-19 dan diterapkannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di tiga semeter terakhir maka proses transfer knowledge siswa dari kurikulum hanya 35 persen. Angka tersebut tentu jauh di bawah standar.
“Ini PR (Pekerjaan Rumah, red) kita bersama bagaimana capaian yang 35 persen tersebut harus kita optimalkan di tahun ajaran baru ini,” ujarnya.

Baca juga  Daftar Perkara di PA Surabaya Kini Lebih Mudah, Cukup Datang ke Kantor Kelurahan

Untuk mewujudkan itu, Ning Ita menyemangati para guru untuk saling bergotong-royong, tidak bisa hanya bekerja personal maupun sektoral saja. Kerjasama tersebut dibutuhkan untuk mencapai goal yang sama.
“Kondisi pendemi ini, kebersamaan ini harus dikuatkan lagi, semua mengalami kondisi yang sulit dengan adanya perubahan skema pendidikan dari konvensional ke skema pendidikan PJJ maupun PTM (Pembelajaran Tatap Muka) terbatas, ini tidak hanya berat bagi siswa saja, namun berat bagi guru dan wali murid, oleh karena itu perlu adanya kerja sama,” urainya.

Masih kata Ning Ita, guru tetap punya kewajiban transfer knowledge, menyelesaikan kurikulum, dan kewajiban agar SPM tercapai, namun pembatasan-pembatasan tersebut menyulitkan capaian pendidikan yang diharapkan. Agar SPM tercapai, Wali Kota Perempuan pertama di Mojokerto ini telah melakukan beberapa skema pembelajaran maupun stimulus. Misalnya skema jam pembelajaran siswa SD dalam dua minggu pertama pelaksanaan PTM terbatas yang hanya dua jam, dan siswa SMP hanya tiga jam dirasa efektif dan tidak ada dampak (penularan virus covid, red), maka akan ditambahkan lagi. Pertimbangan lainnya adalah siswa justru lebih giat lagi dalam PTM terbatas. Jadi ada metode pembelajaran yang harus terus adaptasikan atas kondisi pandemi ini.

Baca juga  Bumil Kategori MBR di Surabaya Dapat Bansos, Berharap Tidak Ada Kasus Bayi Stunting

Selain itu, berbagai stimulus juga telah dilakukan, baik untuk siswa maupun tenaga pengajar. Antara lain membuat event lomba atau chalenge untuk guru yang inovatif dan kreatif tentang bagaimana menyajikan kurikulum pembelajaran secara lebih menarik sehingga dipahami oleh siswa dan terserap ilmunya.
“Ini memotivasi, mungkin nanti juga ada ide kreatif lainnya juga kita upayakan,” imbuh Ning Ita.

Stimulus lainnya yang dilakukan Ning Ita adalah mengarahkan anggaran-anggaran yang kurang efektif kepada pemenuhan sarana dan prasarana pembelajaran yang layak. Termasuk pemenuhan sarana pembelajaran yang berbasis IT serta meningkatkan kesejahteraan Guru Tidak Tetap (GTT) yang naik signifikan.
“Jika semua itu terpenuhi, maka raport baiknya harus tercapai, SPM nya harus terpenuhi,” pungkas Ning Ita. Ym

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed