Bismillah….
Saudaraku, seberat apapun ujian yang sedang kita alami tentu masih jauh dibanding dengan beban yang pernah dialami Rasulullah. Seorang kekasih Allah, yang sering dicaci maki, dilempari batu bahkan tidak jarang tidak bisa makan berhari hari karena tekanan ekonomi yang sangat berat. Padahal tugasnya sangat berat yaitu mengajak kaumnya ke jalan kebenaran Illahi yaitu Dinul Islam.
Kondisi perekonomian kita yang belum stabil karena dampak wabah Covid-19 ini, memang sangat berat dan dialami oleh banyak orang. Tetapi kita masih bisa makan, masih tidur nyenyak, bahkan masih bisa bermain HP seharian. Bandingkan dengan Rasulullah dan umatnya ketika mereka mengalami tekanan ekonomi yang sangat hebat.
Mari kita simak, bagaimana sikap Rasulullah ketika beliau mengalami ujian kelaparan, sementara pada saat itu beliau menjadi pemimpin umat Islam yang kalau sekarang bisa dikatakan sebagai seorang raja atau presiden.
DIGANJAL BATU
Suatu ketika Rasulullah SAW menjadi imam shalat. Para sahabat yang menjadi makmum di belakangnya mendengar bunyi ‘kretek kretek’ seakan sendi-sendi pada tubuh Rasulullah bergeser antara satu sama lain.
Sahabat Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai shalat, ”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah kau menanggung penderitaan yang amat berat, apakah kau sakit?”
Namun Rasulullah menjawab, ”Tidak. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.”
Mendengar jawaban ini Sahabat Umar melanjutkan pertanyaannya, ”Lalu mengapa setiap kali kau menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuhmu? Kami yakin engkau sedang sakit…”
Melihat kecemasan di wajah para sahabatnya, Rasulullah pun mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Ternyata perut Rasulullah yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Rasulullah bergerak.
Umar memberanikan diri berkata, ”Ya Rasulullah! Adakah bila kau menyatakan lapar dan tidak punya makanan, lalu kami hanya akan tinggal diam?”
Rasulullah menjawab dengan lembut, ”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu ini. Tetapi apakah yang akan aku jawab di hadapan Allah nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban bagi umatnya?”
Para sahabat hanya tertegun. Rasulullah melanjutkan, ”Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak”.
TELADAN UMAT
Rasulullah adalah teladan yang luar biasa. Karena itu akhlak dan pribadi beliau menjadi uswah hasanah. Sebagaimana firman Allah:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.“ ( QS Al-Ahzab ayat 21 )
Ayat ini turun ketika terjadi perang Khandaq. Pada waktu itu, Rasulullah saw dan para sahabatnya menggali parit di sebelah utara kota Madinah sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi musuh gabungan, antara kaum jahiliyah Mekah yang didukung Yahudi dan Nasrani Madinah. Parit yang digali itu cukup panjang, lebar dan dalam. Perbekalan yang tersedia sangat menipis, sehingga sebagian sahabat terpaksa mengganjal perutnya dengan batu sebagai penahan rasa lapar. Beberapa sahabat datang kepada Rasulullah saw mengadukan keadaan mereka yang kelaparan, sambil memperlihatkan perutnya yang diganjal batu, maka Rasulullah saw pun membukakan bagian perutnya juga, dan nampaklah dua buah batu mengganjal perut beliau , maka turunlah surat di atas .
Rasulullah saw memberi teladan yang baik kalau para sahabat hanya diganjal dengan satu buah batu, beliau malah diganjal dengan dua buah batu. Di sini jelas bahwa Rasulullah saw lebih merasakan lapar daripada sahabat–sahabatnya, ini memberi contoh bahwa pemimpin tidak boleh hanya mengutamakan diri sendiri, tetapi harus memperhatikan nasib rakyatnya.
DUA HIKMAH
Dari dua kisah di atas, ada dua hikmah teladan yang bisa kita ambil. Pertama, sebagai seorang pemimpin harus memiliki sikap peka dan melindungi serta mengayomi rakyatnya atau orang orang yang sedang dipimpinnya. Kalau ada kenikmatan, rakyatnya yang lebih dahulu menikmati, namun kalau ada kesengsaraan maka pemimpin menjadi garda terdepan yang mengalami terlebih dahulu. Bukan seperti kebanyakan pemimpin saat ini, banyak pemimpin yang bergembira dan menari nari di atas penderitaan rakyat atau orang orang yang dipimpinnya. Ingat, bahwa setiap pemimpin akan ditanya tentang apa yang sudah dilakukan dengan jabatannya itu. Sebagaimana sabda Rasulullah:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan ditanya atas kepemimpinannya.” ( HR Buhari Muslim)
Hikmah kedua adalah sebagai umat Rasulullah kita tidak boleh mudah mengeluh, putus asa atas semua ujian dan beban yang sudah ditakdirkan Allah. Karena seberat beratnya beban kita, tentu jauh dibandingkan dengan beban Rasulullah dan umat yang bersama Rasulullah.
Jangan dikira hanya si miskin yang menangis akibat ujian yang ia hadapi. Penguasa atau orang yang kaya bisa jadi lebih banyak tangisannya dan lebih parah ketakutan yang menghantuinya daripada si miskin. Intinya, setiap yang bernyawa pasti diuji sebelum maut menjemputnya, siapapun orangnya. Entah diuji dengan kesulitan atau diuji dengan kelapangan, kemudian ia akan dikembalikan kepada Allah untuk dimintai pertanggungjawaban bagaimana sikap dia dalam menghadapi ujian tersebut. Allah Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al Anbiyaa’ ayat 35).
Itulah hikmah dari teladan Rasulullah yang melilitkan batu kerikil di perutnya karena kelaparan. Masihkan kita tidak bersyukur dan terus berkeluh kesah tentang ujian dan derita yang sekarang sedang kita alami?
Semoga bermanfaat…..
Surabaya, Senin 22 November 2021
nchnurani@gmail.com






