Warga Dusun Talun Brak, Dawar Blandong, Kabupaten Mojokerto Butuh Realisasi Pembangunan Jembatan yang Rusak

Jembatan Talun Brak yang berada di dusun Talun Brak, Desa Talun Blandong, Kecamatan Dawar Blandong, Kabupaten Mojokerto menunggu sentuhan pemerintah Kabupaten Mojokerto untuk melakukan pembangunan jembatan yang rusak akibat banjir. Jembatan tersebut mengalami rusak parah pada lima bulan yang lalu, sempat dikunjungi oleh dinas terkait dan Bupati Mojokerto dan dijanjikan segera diperbaiki, namun hingga kini janji itu tidak terwujud.

Dalam pengamatan majalahnurani.com jumat (20/5/20220, kondisi jembatan dengan panjang sekitar 60 meter dan lebar 2,2 meter tersebut cukup mengkhawatirkan. Tiang di bagian tengah jembatan terlihat miring, beberapa balok kayu yang menjadi alas jembatan juga bolong atau rusak. Jembatan itu hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, padahal sebelum rusak bisa dilalui mobil meskipun secara bergantian.

Dikatakan Suprat, warga Dusun Talun Brak, kondisi jembatan bisa dikatakan parah dan sejak lima bulan yang lalu sama sekali belum diperbaiki, hanya terlihat beberapa tiang beton sepanjang 3 meter yang tergeletak di sisi sebelah selatan sungai, namun belum ada pengerjaan sama sekali.

Jembatan Talun Brak yang mengkhawatirkan

“Jembatan ini menghubungkan desa Talun Blandong dan Talun Brak, kalau ini rusak putar maka orangtua pusing karena anaknya kalau sekolah harus memutar lebih jauh, , kalau ada orang mati juga susah karena makam berada di selatan sungai,” ujarnya.

Baca juga  100 Sekolah Rakyat Ditarget Rampung Juli 2026

Warga kemudian secara swadaya membetulkan jembatan yang rusak, hanya sebatas bisa dilalui kendaraan dua dan pejalan kaki meskipun dari aspek keamanan sangat mengkhawatirkan.

“Ini bersifat sementara, pokoknya warga dusun Talun Brak itu butuh jalan saja, Harapannya warga secepatnya dibangun gitu lho, katanya iya-iya gitu, sampai saat ini belum ada, Setiap hari warga melintasi jembatan ini karena ladangnya di talun blandong, pagi untuk antar anak sekolah, mengkhawatirkan,” imbuh pria yang kesehariannya mengerjakan lading di selatan sungai ini.

Hal senada juga dikeluhkan Kepala Dusun Talun Brak, Wadi. Menurutnya kondisi jembatan yang melintasi kali Lamomg tersebut masih darurat. Dari penanganan kemarin yang dijanjikan oleh pemkab Mojokerto, khusunya bupati yang menyidak langsung sampai beberapa bulan tidak ada realilsasi sehingga masyarakat swadaya membangunjembatan tersebut.

“Memang kondisinya masih mengkhawatirkan manakala ada banjir, diterjang sampah dan air cukup deras, mengkhawatirkan, Manakalah Kali Lamong kalau banjir luapannya sangat besar sekali, meluber sehingga warga banyak tidak berani melintas jembatan tersebut,” katanya.

Baca juga  100 Sekolah Rakyat Ditarget Rampung Juli 2026
Wadi, Kepala dusun Talun Brak

Wadi berharap, paling tidak Pemkab Mojokerto ada pemikiran tindak lanjut dari sidak bupati untuk segera ada realisasi pembenahan jembatan. Jembatan yang dibangun nantinya diharapkan permanen, tiang pancang yang kokoh karena kondisi tanah lentur dan sering tergerus longsor di sebelah selatan. Di sebelah sebelah utara sungai sekarang juga sering longsor.

“Kalau banjir sangat mengkhawatirkan, waktu itu dijanjikan bantuan Rp 572 juta untuk pembenahan, sampai saat ini belum ada tindakan, setelah rapat dengan dinas terkait hanya terlihat bantuan beton sebanyak 15 tiang dengan panjang 3 meter dan lebar 20 cm panjang yang tergeletak di sebelah selatan dan belum ada pengerjaan. Kalau sepanjang itu untuk apa kita kurang tahu,” terangnya.

Masih kata Wadi, Keberadaan jembatan Talun Brak ini sangat dibutuhkan sekali oleh warga Talun Brak dengan terdiri dari 92 Kepala Keluarga. Sebab akses anak sekolah, lahan pertanian, lokasi makam semua ada di sebelah selatan sungai, dan jembatan ini satu-satunya jembatan dusun yang menghubungkan warga dengan selatan Talun Brak. Jika jembatan itu rusak, maka warga otomatis memutar lewat wilayah Gresik. Sehingga untuk menuju ke sekolah, anak-anak harus menempuh jarak 8-9 km.

Baca juga  100 Sekolah Rakyat Ditarget Rampung Juli 2026

“Jembatan ini vital sekali, sehingga manakala ada warga sakit atau darurat tidak memutar lebih jauh sehingga lebih cepat penanganannya, sekarang tidka bisa dilalui mobil dan harus putar lebih jauh. Kemarin ada warga kita sakit perut (dalam kondisi hamil) akhirnya jam 10 malam memutar, sehingga akhirnya keguguran, terlalu lama penanangan dan melalui paving banyak rusak di wilayah gresik, hamil umur 6 bulanan,” pungkas Wadi.

Kisah lain, menurut Wadi saat jembatan rusak ada warga yang meninggal dunia dan hendak dimakamkan. Karena lokasi makam di selatan sungai, maka keranda jenazah ditempatkan di atas tong bekas yang disusun sedemikian rupa dan ditarik dengan tali untuk bisa menyeberangi sungai.

Wadi juga mengatakan, saat ini untuk melintasi jembatan itu ada retribusi sukarela yang dilakukan oleh warga. Uang terkumpul di gunakan untuk perawatan jembatan tersebut. Ym

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *