Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka Kongres ke III Pergunu (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Jumat (27/5/2022) sore.
Kongres yang diikuti 1094 peserta pengurus Pergunu dari 34 Provinsi tersebut juga dihadiri Ketua Umum Pergunu Prof KH Asep Saifuddin Chalim, Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto, Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati, Wabup Mojokerto Muhammad Albarra dan Wakil Sekjend PBNU Prof Ahmad Muzakki.
Di dalam Kongres III Pergunu yang bertemakan “Guru Mulia Membangun Peradaban Dunia” tersebut Gubernur Khofifah menyinggung soal percepatan lompatan pendidikan, khususnya di lingkungan pendidikan Nahdlatul Ulama.
“Kita butuh percepatan lompatan, bukan lompatan biasa tapi lompatan-lompatan tekhnologi, bagaimana kompetensi tekhnologi yang kita punya ini kalau bisa kita urai maka akan lebih baik, lebih detail,” katanya.
Selain itu Mantan Menteri Sosial tersebut juga menyoroti minimnya SDM guru agama di sekolah Dasar (SD). Banyak guru olahraga di SD yang merangkap sebagai guru agama.

“Ini PR (pekerjaan Rumah) kita, kalau basis pengetahuan cukup tidak apa apa (guru olahraga merangkap guru agama, red), tapi kalu tidak (kompeten) maka akan menjadi masalah nantinya,” ujarnya.
Diakhir sambutannya Gubernur Khofifah mengharapkan arah pendidikan nantinya dapat mengintegrasikan pembelajaran dengan nilai spiritual.
“Saya berharap nantinya Pergunu sebagai pencetak profesi guru yang luar biasa, yang bisa memberikan peta profesi dan langkah-langkah yang harus dilaksanakan siswanya,” ungkap Khofifah.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto mengapresiasi kepemimpinan Kiai Asep sebagai Ketua Umum Pergunu.
“Kalau saja Indonesia punya 10 orang seperti kiai Asep, insha Allah Indonesia semakin maju,” tegasnya.
Yandri menyebut saat ini setidaknya ada dua hal yang harus disikapi oleh Pergunu untuk kemudian dijadikan rekomendasi Kongres. Yakni dihapusnya kata “Madrasah” di UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) dan soal LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender).
“Sebagai Ketua Komisi VIII DPR RI saya siap menerima dengan senang hati untuk para delegasi Pergunu di Komisi VIII nanti,” katanya.

Sementara itu Ketua Umum Pergunu KH Asep Saifudin Chalim menyebut ada empat akses yang membuat sebuah pendidikan maju. Yakni intelektual, jaringan, Sosial dan finansial.
“Insya Allah secepatnya setiap tahunnya Pergunu akan mencetak 500 orang doktor, untuk akses jaringan insya Allah Pergunu sudah memiliki 200 ribu ranting di seluruh indonesia,” ujar Kiai Asep yang juga pendiri dan pengasuh ponpes Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto.
Dalam Kongres Pergunu ini Kiai Asep menyoroti komisi rekomendasi yang harus serius. Setidaknya ada dua rekomendasi yang ditekankan, yakni UU Sisdiknas yang menghapus kata Madrasah dan Rekomendasi LGBT yang tidak boleh ada di indonesia.
“Saya siap memberangkatkan utusan Pergunu dari semua wilayah untuk menyampaikan rekomendasi itu ke DPR RI,” pungkaa Kiai Asep. Ym






