“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya”. Begitulah pesan Bung Karno mengingatkan masyarakat Indonesia.
Pesan itulah yang juga menginsiprasi siswa siswi kelas 8 SMP Sekolah Alam Insan Mulia bersemangat belajar tentang sejarah perjuangan bangsa pada kegiatan Sosiodrama, Selasa (14/6).

Ustad Muhktar, guru mata pelajaran sosial SMP SAIM menyatakan, kegiatan sosiodrama ini bertujuan agar siswa merasakan jiwa membara para pahlawan.
“Mengajarkan materi dengan metode sosiodrama. Kebetulan, materi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah drama sehingga diadakan collaborative project untuk para siswa. Mereka diberikan tantangan untuk membuat pementasan drama secara berkelompok,” ungkapnya.
Ada enam judul drama yang bisa dipilih setiap kelompok. Mulai dari masa kedatangan bangsa barat dan masa penjajahan, masa perlawanan perang Diponegoro, masa perlawanan perang Aceh, masa perlawanan perang padri, masa kebangkitan sumpah pemuda, serta detik-detik proklamasi.
Menurut Ustad Muhktar, siswa mengawalinya dengan pembuatan naskah. Di kelas Bahasa Indonesia, para siswa berdiskusi menulis naskah. Mereka diperkenanan menggunakan berbagai sumber untuk menyusun naskah.
“Bisa dari buku paket pelajaran, intenet, wawancara guru, dan banyak lainnya,” sambungnya.
Para siswa juga bisa berkonsultasi dengan Ustazah Wulan untuk teknis penulisan naskah drama yang baik. Sedangkan di kelas sosial, para siswa berkonsultasi dengan Ustaz Mukhtar terkait dengan kebenaran jalan cerita yang ditulis dalam naskah.
Setelah naskah disetujui oleh Ustazah Wulan dan Ustaz Mukhtar, sisaa melanjutkan dengan pembagian peran dan latihan drama.

Para siswa sangat antusias dan semangat menyiapkan pementasan. Hal ini terbukti dengan proses latihan drama yang tidak hanya dilakukan di kelas Bahasa Indonesia dan sosial, namun juga di rumah anggota kelompok.
Mereka juga memanfaatkan waktu libur seperti hari Sabtu atau Minggu untuk latihan agar hasilnya optimal. Benar saja, saat pementasan berlangsung, di atas panggung berukuran 5×3 meter mereka menampilkan drama dengan sangat apik dan totalitas.
Mereka tidak hanya sekadar menghafalkan naskah, namun juga menggunakan kostum sesuai dengan peran masing-masing sehingga drama tampak lebih hidup.
Misalnya saja dalam drama Diponegoro, pemeran menggunakan jubah putih dan sorban putih seperti Pangeran Diponegoro dalam gambar di buku sejarah.
Begitu juga untuk pemeran pemuda-pemuda dalam drama sumpah pemuda, semua pemuda menggunakan jas rapi dan ada yang memainkan violin seperti WR Soepratman.
Menariknya, Ustazah Wulan membacakan puisi berjudul Diponegoro karya Chairil Anwar dan senandung dari Ustaz Dwi berkolaborasi dengan Ustaz Rindang dengan judul Nusantara.
Tak ketinggalan, Ananda Rama dan Rafa mewakili para siswa turut membawakan acara dengan antusias.
Melalui metode sosio drama, kata Ustad Muhktar, banyak pelajaran diberikan ke siswa. “Mulai dari kerja sama, kekompakan, pengalaman rasa, manajemen konflik, manajemen waktu,” tegasnya.
“Selama drama tadi itu cukup memuaskan, bisa belajar sejarah Indonesia dengan cara yang berbeda. Kreativitas tiap kelompok dalam menentukan dialog, lagu selama pertunjukan dan latar tempat di setiap adegannya. Selain itu project drama kali ini juga melatih cara para siswa berbicara dengan lantang, jelas dan melatih kepercayaan diri di depan para penonton,” kesan Ananda Al Fatih setelah pementasan drama. Bg






