Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur turut prihatin atas kejahatan seksual guru ke siswa yang belakangan ini terjadi.
Namun demikian, MUI Jatim mengimbau agar masyarakat tak perlu cemas untuk menyekolahkan anaknya di sekolah Islam atau pesantren.
“Kami berupaya melakukan langkah antisipasi dan pengawasan agar jangan sampai terjadi lagi kejahatan seksual di Jawa Timur,” tutur Dr KH Holis MHi, Sekertaris Komisi Pendidikan MUI Jatim diwawancarai majalahnurani.com, Selasa (2/8).
Langkah konkret MUI Jatim yakni mengedukasi masyarakat dengan menggelar klinik pendidikan yang salah satunya yakni membahas antisipasi kejahatan seksual.
Selain itu, menurut KH Holis, peran orang tua dalam memilih lembaga pendidikan juga sangat penting. Dimana dalam memilih lembaga pendidikan yang tidak hanya berorientasi kepada transfer knowledge, tapi bagaimana cara mentransfer nilai akhlak dan ilmu keIslaman ke siswa.
“Orang tua harus berpikir bahwa anaknya sekolah di lembaga pendidikan yang di situ juga diajarkan nilai-nilai moral, nilai-nilai etika,” sambungnya.
Kyai Holis tak menampik jika saat ini marak terjadi kekerasan seksual di lembaga pendidikan.
“Oleh karena itu pengawasan Dinas Pendidikan termasuk juga Kementerian Agama, tokoh masyarakat dan komite sekolah, berperan penting. Bagaimana memberikan kontribusi nyata dalam pengawasan,” urainya.
“Kemudian ini juga menjadi tugas Lembaga Keagamaan NU mungkin juga Muhammadiyah untuk bersama bergandengan tangan dalam mencegah kejahatan seksual,” tandasnya lagi. Bg












