BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) bersama anggota DPR RI Arzeti Bilbina terus gencar melakukan sosialisasi cegah stunting pada anak. Kali ini sosialisasi digelar di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Ahad (21/8/2022).
BKKN Pusat sebagai Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting yang dipertegas dengan Perpres Nomor 72/2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting, berupaya maksimal untuk menurunkan maupun menginginkan angka stunting pada akhir tahun 2024 diharapkan menjadi 14%.
Bersama Komisi IX DPR RI sebagai mitra kerja BKKBN pusat, menggelar sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana Bersama MItra Kerja di sejumlah daerah di Jawa Timur, dengan tema Karena anak adalah pembawa harapan, dan Cegah Stunting sejak dalam kandungan.
Diantaranya, saat BKKBN Pusat dengan Arzeti Bilbina, sebagai Mitra Kerja Anggota DPR RI Komisi IX menggelar Sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana Bersama MItra Kerja di Vila Amanah Madinah yang terletak di Walang Watuagung Kecamatan Prigen Pasuruan Jawa Timur, Ahad (21/8/2022).
Kegiatan sosialisasi itu juga dihadiri Uni Hidayati ST MM selaku Koordinator Bidang Dalduk, drg Loembini Pedjati Lajoeng Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Pasuruan, serta Drs Sukaryo Teguh Santoso Deputi Bidang Advokasi, Pergerakan dan Informasi.
Dalam sambutannya saat membuka sosialisasi cegah stunting sejak dalam kandungan, Arzeti Bilbina mengajak seluruh kader BKKBN dan semua elemen, untuk ikut serta mengambil bagian dalam memberikan sosialisasi bahaya stunting atau kekurangan gizi pada anak anak kepada masyarakat luas. Sebab, perlu disadari bersama, untuk melahirkan generasi-generasi
“Hebat itu dimulai dari hilir sampai hulu. Contohnya, seorang ibu yang akan menikahkan anaknya, harus mengecek kondisi kesehatanny. Kalau, dinyatakan sehat semuanya, bisa dilanjutkan tujuannya. Apabila sebaliknya, belum sehat saat diperiksakan, maka ditunda dulu pernikahannya,” ujar Arzeti.
Menurut lebih lanjut, saat zaman para orang tua dulu, stunting disebut cebol dan menganggap penyebabnya karena kurang nutrisi, sehingga mengganggu proses pertumbuhan anak. Sekarang, masyarakat dapat memahami, bahwa pentingnya pemberian nutrisi yang baik dan benar itu dimulai dari ibunya. Hal ini, sebagai persiapan dari menjaga kesehatan alat reproduksi sehingga siap untuk dibuahi. Untuk mempersiapkan sejak dini, calon generasi generasi yang hebat.
“Stunting ini menjadi kekhawatiran terbesar pasangan suami istri. Namun stunting ini dinilai bukanlah sebagai penyakit, tetapi dapat dilakukan pencegahan sejak dini,” tegasnya.
Masih kata Arzeti, semua pihak penting ikut serta dalam mencegah stunting. Sebab, stunting dalam jangka panjang berdampak buruk tidak hanya terhadap tumbuh kembang anak, tetapi juga terhadap perkembangan emosi yang berakibat pada kerugian ekonomi. Mulai dari pemenuhan gizi yang baik selama 1000 hari pertama kehidupan anak hingga menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat.
“Untuk itu, Kami bersama BKKBN Pusat sangat gencar melaksanakan sosialisasi dan KIE program bangga kencana, dengan tema Karena anak adalah pembawa harapan, dan Cegah Stunting sejak dalam kandungan,” jelas Arzeti.
Sementara itu Deputi Bidang Advokasi, Penggerakan dan Informasi, Drs. Sukaryo Teguh Santoso, M.Pd menjelaskan, stunting menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan dalam perjuangan BKKBN.
Dalam menyikapi persoalan stunting di Indonesia, BKKBN serius mengatasinya, karena stunting ini merupakan isu persoalan sumber daya manusia. BKKBN menginginkan angka stunting pada akhir tahun 2024 diharapkan menjadi 14%. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Stunting umumnya ditandai dengan tinggi badan di bawah standar. Stunting tidak dapat disembuhkan dan berdampak seumur hidup.
“Untuk mengurangi risiko anak mengalami stunting sejak masa kehamilan itu, dapat dilakukan dengan, pertama memenuhi kebutuhan nutrisi. Ini merupakan salah satu hal yang penting dilakukan guna mencegah stunting pada anak,” ujar Sukaryo.
Dijelaskan nya lebih lanjut, agar proses tumbuh kembang anak bisa berjalan dengan optimal, maka perlu mendapatkan asupan nutrisi yang cukup di 1000 hari pertama kehidupannya, yakni sejak masih menjadi janin hingga usia sekitar 2 tahun. Kedua dengan melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin. Sebab, mencegah stunting pada anak, harus pemeriksaan rutin selama kehamilan diperlukan untuk memantau tumbuh kembang janin, dan mendeteksi apabila terdapat masalah pada janin atau kesehatan Bumil.
“Disamping itu, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Menghindari paparan asap rokok, serta berolah raga santai secara teratur. Bagi para pelajar yang telah menjadi dewasa, BKKBN dapat menjadi tempat belajar yang tepat, dalam mempersiapkan menuju keluarga yang sehat dan sejahtera,” Jelasnya.
Diakhir kegiatan, BKKBN dan Arzeti juga membagikan doorprice kepada para peserta sosialisasi. Ym






