Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan 1443H harga komoditas bahan pokok merangkak naik. Melihat data Kantor Wilayah IV Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), yang melonjak naik yakni cabai rawit. Dimana mengalami kenaikan 43,14 persen dari harga Rp 41.642 menjadi Rp 73.237.
Dampak kenaikan ini disebabkan banyak faktor. Diantaranya cuaca, pedagang pulang kampung nyekar (ziarah) dan tingginya permintaan konsumen. “Memang ada kenaikan sebelum puasa ini. Mulai cabai rawit, bawang putih, beras. Kita berharap kenaikan ini tidak terlalu lama terjadi,” tutur Kepala Kanwil IV KPPU Jatim Dendy R Sutrisno diwawancarai Bagus wartawan majalahnurani.com, di Surabaya pada Senin (20/3).

Untuk itu, Dendy mengimbau agar ibu-ibu tidak perlu kawatir. Sebab stok barang yang mengalami kenaikan harga memang ada. Diakuinya bahwa ada kenaikan harga tahun ini dibanding tahun sebelumnya. Menurutnya tahun 2022 kemarin sedikit terelaksasi dengan adanya Covid-19. Dan tahun 2023, semuanya sudah beraktifitas normal, termasuk pasar.
“Artinya dari sisi permintaan akan meningkat. Perubahannya tidak terlalu banyak meskipun beberapa mengalami kenaikan,” sambungnya.
Menurut Dendy, kenaikan ini semestinya bisa diantisipasi jauh-jauh hari oleh pihak terkait untuk pasokannya. Dimana jadwal pasokan itu bisa dilakukan 3 atau 6 bulan sebelum terjadinya kenaikan harga atau mengacu data yang menunjukkan kenaikan itu.
“Karena datanya ada. Sehingga antisipasinya bisa dilakukan jauh-jauh hari,” paparnya.
KPPU sendiri, tegasnya, tidak dalam posisi memastikan ketersediaan barang komoditas tersebut. Hanya memastikan ada tidaknya pasokan barang tersebut. Tidak kalah pentingnya, urai Dendy, adalah langkah-langkah konkret membuat mata rantai distribusi ini tidak terlalu terdistorsi oleh fenomena jelang hari besar keagamaan.
Sampai hari ini KPPU melakukan strategi mengantisipasi lonjakan harga. Diantaranya selalu melakukan pemantauan dan pengawasan di lapangan. Dendy memprediksi, jika operasi pasar tidak segera dilakukan maka akan membuat pelaku pasar melakukan praktik-praktik seperti ini.
“Maka kita dorong agar operasi pasar dilakukan secara efektif oleh Pemerintah Kota Surabaya agar bisa menyasar masyarakat dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah,” jelasnya.
Yang perlu segera dilakukan, masih kata Dendy, yakni operasi pasar yang mengacu pada data yakni bawang putih, beras, cabai rawit. “Tapi yang penting ini jangan memicu panic buying dari konsumen,” tandas dia. Bagus












