Unusa Gelar Parade Puisi, Hadirkan Taufiq Ismail & Zawawi Imron

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Unusa (Universitas Nahdlatul Ulama) Surabaya menggelar parade pembacaan puisi pada Senin (29/5) di Auditorium lantai 9 Tower Unusa. Parade puisi yang bertema Kebangkitan Bangsa Bebas Dari Korupsi, ini menghadirkan budayawan internasional Taufiq Ismail dan Budayawan D Zawawi Imron. Parade puisi juga dihadiri Mendikbud periode 2009-2014 Prof Mohammad Nuh, Rektor Unusa Prof Achmad Jazidie serta tamu undangan dan para mahasiswa. Istimewanya, di parade puisi ini, cucu Zawawi Imron bernama Yuka turut menggetarkan tamu undangan dengan lantunan puisi berjudul Aku.

Dalam sambutannya, Prof Nuh menegaskan bahwa Taufiq Ismail dan Zawawi Imron merupakan legenda. “Beliau adalah aset bangsa Indonesia. Mudah-mudahan puisi sangat mendalam yang dibacakan bisa dibagi dengan mahasiswa yang muda,” ungkapnya.

Menurut Prof Nuh, puisi merupakan urusan ekspresi. Tapi, ekspresi khusus. Tak mungkin puisi serantanan dibuat begitu saja. “Tapi dibuat dalam hati nurani mendalam,” sambungnya.

Baca juga  Unusa Gandeng KCGI Jepang untuk Transformasi Pendidikan Tinggi

Dipaparkannya, konteks hari ini kebangkitan bangsa bebas dari korupsi. Prof Nuh sedih dengan maraknya korupsi. Oleh karena itu, dia mengajak seluruh tamu undangan untuk meresapi puisi Taufiq Ismail dan Zawawi Imron. Bahkan Prof Nuh menandaskan bahwa di peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Unusa harus berdiri di depan. Disaat orang lain sibuk dengan dirinya sendiri. Unusa harus membuktikan janji kemerdekaan bisa tercapai seperti pada pembukaan UUD 45.

“Janji itu mencerdaskan bangsa, ikut serta perdamaian abadi, melindungi segenap bangsa Indonesia,” urainya.

“Kita harus punya rasa nasional seperti pada lagu Yalal Waton. Indonesia dan Islam jadi kesatuan. Unusa menjadi anak dalam kesatuan itu,” pungkas Prof Nuh.

Baca juga  Dinas Pendidikan Jatim Siapkan Skema Beasiswa Siswa yang Tidak Masuk SMA Negeri

Taufiq Ismail usai membaca puisi berjudul Kita Merindukan Anak-anak Indonesia, mengaku prihatin dengan masalah yang dihadapi negeri ini lantaran budaya baca buku sangatlah kurang. “Salah satu masalah besar yang dihadapi negri kita, adalah anak-anak didik kita, anak-anak kita sendiri itu budaya baca bukunya kurang sekali,” ucapnya.

Bahkan, lanjut Taufiq Ismail, para sastrawan telah melakukan sejumlah kegiatan untuk  mengatasinya. Kemudian membantu Pemerintah, membantu Kementrian P dan K dalam mengatasi masalah ini. “Bertahun-tahun ini sudah berjalan tapi belum mencapai hasil yang diinginkan,” keluh Taufiq Ismail.

Sementara Zawawi Imron mengajak seluruh mahasiswa agar selalu belajar dan belajar. Lebih dari itu, Zawawi juga meminta kepada mahasiswa agar memupuk keindahan dalam hati. Sebab di dalam hati yang bersih dan indah, akan menciptakan karya puisi yang indah pula.

“Barang siapa yang tidak memiliki hati yang indah, maka tidak akan mampu merasakan keindahan sesuatu ciptaan Allah SWT,” ungkapnya. Tak lupa, Zawawi berpesan kepada mahasiswa untuk selalu menghormati ibu. Pesan ini dibacakan langsung oleh Zawawi dalam karya puisi fenomenalnya berjudul Ibu. “Pertama ibu yang harus kita hormati. Kedua, guru-gurumu,” tandasnya.

Baca juga  Mendikdasmen dan Khofifah Lepas Ribuan Lulusan SMK Kerja Magang ke Luar Negeri

Saat diwawancarai Bagus wartawan majalahnurani.com di akhir acara, Rektor Unusa Prof Achmad Jazidie dengan tegas menyerukan agar jangan ada lagi praktik korupsi yang terjadi di Indonesia.

“Stop korupsi! Berhenti sampai disini. Biarkan mereka yang tidak bisa diingatkan, pada akhirnya meninggalkan dunia ini. Tapi, adik-adik jangan ada niat mewarisi kebiasaan yang mengerikan ini, yang membuat negeri ini nggak maju,” katanya.

Cara terbaik mencegah korupsi, menurut Prof Achmad Jazidie, adalah menindak tegas para koruptor. “Itu cara terbaik agar korupsi tidak terjadi berulang di negeri ini,” tandasnya. Bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *