Polda Metro Jaya menduga pelajar dijadikan tameng oleh pihak tertentu dalam aksi berbuntut kericuhan saat demonstrasi di wilayah Jakarta pada pekan lalu.
Wadirreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Putu Kholis Aryana mengatakan hal itu berdasarkan keterangan dari pelajar yang sempat diamankan pada aksi demo 25 dan 28 Agustus.
“Kami ingin mendalami bagaimana proses anak-anak ini bisa bergerak atau bisa bergerak untuk menuju ke DPR RI. Logikanya sangat mudah tanggal 25 Agustus dan tanggal 28 Agustus bukan hari libur sekolah dari situ kami mulai mendalami apa penyebab dari anak-anak ini bisa bergerak masif bahkan dari luar Jakarta menuju ke DPR MPR,” tutur Putu kepada wartawan dikutip Jumat (5/9).
Dari hasil pendalaman, kata Putu, pihaknya menemukan ada kesamaan pola, yakni ajakan dalam bentuk konten atau narasi melalui media sosial. Putu menyebut hal itu yang membuat anak atau pelajar tergugah untuk ikut dalam aksi.
Menurut Putu, pihaknya juga menemukan pada demo 25 Agustus terdapat massa tidak terkoordinir, yang mayoritas adalah anak dan pelajar.
“Ini berbanding lurus dengan temuan yang kami lihat dalam upaya kami mengumpulkan informasi baik dari media online, nedia elektronik maupun media sosial, jadi tidak serta-merta kami melihat ada suatu penghasutan yang masif, tidak pada setelah saat terjadi kericuhan saja, tetapi pada saat aksi di pekan lalu di Jakarta,” tutur dia.
“Kami sudah memetakan dari adanya persesuaian itu antara anak-anak yang kami wawancarai, temuan di media, lalu perkembangan situasi yang terjadi kami merangkai ternyata ada kesamaan pola, ada upaya masif yang terjadi di media sosial dengan sasaran spesifik anak jelas itu jelas,” sambungnya. (Bg)






