Obesitas merupakan masalah kesehatan yang umum ditemukan di masyarakat yang salah satunya juga menyerang remaja. Obesitas dapat menjadi bahaya tersendiri karena dapat menyebabkan munculnya penyakit lain seperti diabetes, kadar kolesterol yang tinggi, dan tekanan darah tinggi.
Namun, tanpa kita sadari banyak hal yang dapat memicu obesitas pada remaja, salah satunya yaitu kurangnya waktu tidur. Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Nur Aisiyah Widjaja dr Sp A(K), menyebut bahwa kebiasaan jam tidur yang kurang dapat meningkatkan risiko obesitas.
“Perlu regulasi jam tidur yang tepat, maksimal di jam 9 malam yang mana hormon melatonin yang mengatur regulasi tidur akan meningkat perlahan dari jam 8. Apabila tidur melebihi jam 9, maka hormon melatonin akan digantikan dengan hormon leptin yang dapat memberikan rasa lapar dan keinginan untuk sekedar ngemil atau makan meningkat,” ungkapnya Senin (5/1).
Makan di Malam Hari
Aisiyah menyebut bahwa kebiasaan tidur larut malam biasanya dibarengi dengan kegiatan makan cemilan yang kurang baik dimakan saat malam hari. Umumnya banyak remaja yang makan mie instan dan terkadang ditambah telur sebagai campurannya. Tidak jarang juga remaja banyak yang memakan gorengan sebagai cemilan.
“Makan mie instan di malam hari tentunya tidak direkomendasikan karena jumlah kalorinya yang tinggi, apalagi jika ditambah dengan telur yang mengandung protein dan juga lemak. Tambahan tersebut juga akan menambah asupan kalori yang masuk pada tubuh, terlebih saat malam hari tubuh tidak terlalu aktif bergerak sehingga berisiko besar munculnya obesitas,” ungkapnya.
Selain berkaitan dengan obesitas, kurangnya waktu tidur juga dapat dipengaruhi oleh stress. Saat sedang stress, maka tubuh dapat melepaskan hormon kortisol dan peningkatan hormon kortisol akan mengganggu pelepasan melatonin yang mengatur tidur. Karena itu penting menjaga stress tubuh, tidak hanya menjaga pola makan.
“Usahakan tidur di jam 9 malam dan makan terakhir di jam 7 serta pengerjaan tugas kebut semalam. Perhatikan durasi tidur karena dapat memicu terjadinya obesitas yang berdampak Sindrom Metabolik (risiko diabetes, penyakit jantung koroner dan penyakit yang berhubungan dengan penyakit non communicable disease (NCD),” pungkasnya. (Bg)






