Pemerintah Optimis Hilirisasi Kelapa Sawit Perkuat Ekonomi di Tengah Guncangan Global

Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa hilirisasi kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) merupakan strategi kunci dalam memperkuat ekonomi nasional, mendorong kemandirian energi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan, Moch. Arief Cahyono, menyampaikan bahwa Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia dengan pangsa lebih dari 60 persen produksi global memiliki posisi strategis untuk mengendalikan rantai nilai industri sawit melalui penguatan sektor hilir.

“Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi pengekspor bahan mentah. Hilirisasi CPO adalah langkah konkret untuk mentransformasi Indonesia dari pemasok bahan baku menjadi produsen utama produk bernilai tambah tinggi yang dibutuhkan pasar global,” ujar Moch. Arief Cahyono, Selasa (31/3).

Baca juga  Pemerintah Antisipasi PHK Massal ditengah Konflik Global

Ia menjelaskan, pengolahan CPO menjadi berbagai produk turunan seperti pangan olahan (margarin), kosmetik, sabun, oleokimia, hingga bioenergi akan memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri.

“Dengan penguasaan lebih dari 60 persen pasar CPO dunia, Indonesia memiliki leverage besar dalam menentukan arah pasokan dan harga produk turunan sawit global,” tegasnya.

Lebih lanjut, hilirisasi sawit juga menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kemandirian energi nasional melalui pengembangan biodiesel B50 (campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dengan solar).

“Pemanfaatan biofuel sawit secara optimal berpotensi menggantikan impor solar secara signifikan. Bahkan, dengan implementasi penuh B50, Indonesia berpeluang tidak lagi mengimpor solar dan mampu memenuhi kebutuhan energi dari sumber daya dalam negeri,” jelasnya.

Baca juga  Pemerintah Pastikan Impor Minyak 150 Juta Barel dari Rusia Segera Tiba

Penegasan ini sekaligus meluruskan berbagai framing yang tidak utuh terhadap pernyataan Menteri Pertanian terkait dinamika geopolitik global, termasuk ilustrasi penutupan Selat Hormuz. Jalur tersebut selama ini hanya merepresentasikan sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Pernyataan tersebut bukan prediksi krisis, melainkan ilustrasi untuk menunjukkan bagaimana gangguan pasokan global dapat berdampak pada harga energi. Bg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *