Pengukuhan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Periode 2026–2028 resmi digelar di Amphitarium Lantai 9, Gedung Utama Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (12/4/2026).
Dalam amanatnya pada agenda bertajuk “Arah Baru IPM: Membumikan Gerakan, Mencerdaskan Semesta”, Ketua Umum (Ketum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa ikrar yang telah diucapkan bukan sekadar formalitas, melainkan ikatan moral untuk mengaktualisasikan amanat organisasi.
Ia menyampaikan bahwa Muhammadiyah terbuka terhadap berbagai sumber kaderisasi sebagai wujud inklusivitas. Namun, keterbukaan tersebut sekaligus menuntut komitmen yang kuat, karena kader IPM merupakan bagian dari kader inti persyarikatan.
“Proses kaderisasi menjadi lebih lekat dan kental, tetapi juga menjadi tanggung jawab yang tidak ringan. Kita adalah kader inti persyarikatan yang harus memiliki kualitas lebih,” tegas Haedar pada Ahad (12/4/2026).
Menghadapi tantangan ke depan, Haedar mengingatkan pentingnya merawat arus keorganisasian di tengah perubahan spektrum kehidupan yang semakin kompleks dan cenderung sentrifugal. Ia menyoroti karakter generasi muda saat ini yang tumbuh sebagai digital native dalam lanskap revolusi teknologi.
“Generasi Z memiliki kultur dunia digital yang kuat. Memadukan dimensi kemanusiaan dan digital native itu tidak mudah. Di sinilah diperlukan kecerdasan yang melampaui batas-batas biasa,” ujarnya.
Lebih lanjut, Haedar menekankan pentingnya menghidupkan kembali spirit keilmuan yang berakar pada nilai-nilai Al-Qur’an, khususnya makna Iqra dalam QS. Al-‘Alaq serta filosofi nuun wal qolami wa maa yasthuruun sebagai identitas pelajar Muhammadiyah.
Ia menegaskan bahwa arah baru IPM harus berlandaskan dimensi keimanan yang bersifat given ilahi dan senantiasa hadir dalam setiap aspek kehidupan.
“Dalam seluruh nafas kehidupan kita, secerdas dan semaju apa pun, Tuhan akan selalu hadir bersama kita,” tegasnya.
Menurut Haedar, aktualisasi nilai Iqra tersebut perlu dipertegas dengan spirit tauhid yang mencerahkan, tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga progresif dan transformatif.
“Tauhid harus mencerdaskan kehidupan, membuka ilmu, membuka semesta, dan menjadi jalan kehidupan. Atas nama Tuhan, kita berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran,” imbuhnya. (Ym)






