Proses screening kesehatan yang lebih selektif memberikan dampak signifikan pada kondisi fisik calon jemaah haji asal Jawa Timur tahun 2026. Memasuki fase pemberangkatan, para jemaah terpantau dalam kondisi yang lebih bugar dan siap menjalani ibadah di Tanah Suci.
Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, As’adul Anam, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah jemaah yang sakit terlihat jelas dari berkurangnya penggunaan kursi roda. Jika tahun lalu satu kelompok terbang (kloter) bisa membawa lebih dari 24 kursi roda, tahun ini jumlahnya menurun drastis.
“Tahun ini jumlah tertinggi hanya sekitar 10 jemaah pengguna kursi roda per kloter, bahkan ada yang hanya enam atau tujuh orang,” ujar Anam di Embarkasi Surabaya, Kamis (23/4).
Menurut Anam, perubahan ini merupakan hasil dari kebijakan pemeriksaan kesehatan yang lebih ketat. Jemaah dengan penyakit permanen kini tidak lagi dipaksakan berangkat, di mana kuota mereka dialihkan kepada anggota keluarga lain yang lebih sehat. Langkah preventif ini diambil untuk menekan risiko kesehatan sebelum jemaah memasuki rangkaian ibadah yang berat.
Selain faktor kesehatan, Embarkasi Surabaya tahun ini mengusung tagline layanan ramah lansia, ramah disabilitas, dan ramah perempuan. Dukungan fasilitas bagi kelompok rentan telah disiapkan mulai dari asrama hingga di Arab Saudi nanti. Khusus untuk jemaah perempuan, porsi pembimbing di Jawa Timur kini ditingkatkan hingga lebih dari 30 persen.
Berdasarkan data PPIH Embarkasi Surabaya hingga Kamis (23/4), sebanyak tujuh kloter telah diberangkatkan menuju Tanah Suci. Total jemaah yang sudah bertolak mencapai 2.660 orang. Penguatan sistem screening ini diharapkan terus mendukung kelancaran ibadah serta memudahkan petugas dalam memberikan pelayanan selama musim haji berlangsung. Bg








