Rencana implementasi mandatori campuran Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan biodiesel 50 persen atau B50 pada Juli 2026 dapat mendorong Indonesia berhenti memiliki ketergantungan impor solar.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan peningkatan kadar campuran minyak sawit tersebut akan mengalihkan kebutuhan solar ke produksi dalam negeri.
Dia bilang pemerintah tengah merampungkan uji teknis penggunaan B50 di lapangan.
“Sebelumnya sekarang yang sedang berjalan adalah 40%, dan Juli mendatang kita akan meningkatkannya menjadi 50% sehingga kita bisa mencapai situasi di mana kita tidak lagi mengimpor minyak solar lagi,” ujar Eniya, Jumat (22/5).
“Insyaallah sesuai dengan arahan bisa 1 Juli. Semua sektor B50 jadi tidak ada yang 40 terus 50 begitu itu infrastrukturnya malah kesusahan sehingga mulainya serentak. Semua sektor di Indonesia,” lanjut dia.
Dari uji yang dilakukan sejauh ini, hasilnya menunjukkan penggunaan B50 tetap menjaga performa mesin. Bahkan, pihaknya mencatat efisiensi pada komponen kendaraan seperti filter mesin yang memiliki masa pakai lebih lama dibandingkan saat menggunakan bahan bakar sebelumnya.
“Mostly yang hasil uji sampai 50.000 ataupun ini itu melampaui spesifikasi yang ada. Maksudnya gini kalau dipasang filter harus 10.000 harus ganti ternyata dia sampai 30.000 nggak ganti gitu. Saya laporkan ke pak menteri juga apa adanya dan ini bagus FAME 50% itu,” kata dia.
Selain ketahanan komponen, pemerintah juga telah memastikan keandalan mesin di wilayah bersuhu rendah melalui pengujian di kawasan Bromo. Hasil pemantauan membuktikan campuran biodiesel tingkat tinggi ini tetap responsif saat mesin dinyalakan dalam kondisi dingin.
“Nah kemarin cold start engine saya di Bromo itu sudah bagus kurang dari satu detik bahkan 0,8 detik. Nah ini nanti kan kita sudah berhasil di sisi otomotif itu kan berarti high speed engine sudah berhasil,” ucap Eniya. Bg








