Kemendikdasmen dan UNESCO Ajak Generasi Muda Atasi Tantangan Pelestarian Lingkungan

Masa depan ketahanan pangan, kelestarian laut, dan kualitas hidup masyarakat Indonesia sangat bergantung pada kemampuan generasi muda dalam memahami dan menjaga lingkungannya. Oleh karena itu, pendidikan perlu menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan nyata agar murid mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan. Hal ini yang menjadi dasar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengambil bagian dalam National Forum on Education for Sustainable Development (ESD) atau Forum Nasional tentang Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan yang diselenggarakan UNESCO bersama Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) di Jakarta.

Forum ini mengangkat tema “Biosphere Reserves and Oceans as Learning Spaces for People and the Planet“. Berbagai pemangku kepentingan nasional dan internasional, mulai dari institusi pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, sektor swasta, hingga mitra pembangunan, hadir dalam kegiatan ini untuk berdialog seputar kebijakan pendidikan berkelanjutan dan memperkuat kolaborasi lintas sektor.

Baca juga  SD Mudipat Umumkan Inovasi Kurikulum Kelas Tahfidz Tahun Ajaran Baru

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, saat memberikan sambutan, menegaskan bahwa pendidikan harus mampu membangun manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana arah pembangunan nasional. Ia melanjutkan bahwa tantangan masa depan menuntut terciptanya generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan kepedulian terhadap lingkungan sesuai dengan visi Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

“Pendidikan harus mendekatkan murid-murid dengan alam di mana mereka berada. Kita harus memastikan pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia yang mampu hidup di dunia, tetapi juga manusia yang mampu menjaga dunia,” katanya dalam siaran pers Selasa (16/6).

Ia menjelaskan bahwa Kemendikdasmen terus mendorong penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang memungkinkan peserta didik belajar secara reflektif, kontekstual, dan bermakna. Dalam pendekatan ini, alam tidak hanya dipandang sebagai objek pembelajaran, tetapi juga sebagai ruang belajar yang menghadirkan pengalaman nyata bagi murid. Penguatan pendidikan pembangunan berkelanjutan juga sejalan dengan upaya membangun karakter peserta didik yang memiliki kepedulian sosial, kemampuan berpikir kritis, serta semangat bergotong royong dalam menghadapi berbagai persoalan global.

Baca juga  Usung Tema “Revolusi Hijau Nusantara”, YPM Carnival 1448 H Kompleks Panjunan Sukodono Berlangsung Meriah dan Inspiratif

Sementara itu, Direktur Kantor Regional UNESCO di Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menyampaikan bahwa tantangan global seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi ekosistem memerlukan transformasi dalam dunia pendidikan. “ESD bukan sekadar mengajarkan topik keberlanjutan. Ini adalah tentang mentransformasi cara kita belajar, cara kita mengajar, dan cara kita berinteraksi dengan dunia di sekitar kita,” tegasnya.

Melalui proyek Sustaining Our Oceans (SOO) yang didukung oleh Fast Retailing (UNIQLO), UNESCO bersama berbagai mitra terus memperkuat kapasitas pendidik dan masyarakat untuk menjadi agen perubahan dalam menjaga kelestarian laut.

Program tersebut telah diimplementasikan di Wakatobi melalui pengembangan materi pembelajaran yang menghubungkan sains modern dengan pengetahuan ekologi lokal sehingga lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Forum ini juga ditandai dengan penyerahan simbolis paket pembelajaran Wakatobiku kepada Mendikdasmen sebagai wujud kolaborasi antara pemerintah, organisasi internasional, pemerintah daerah, dan berbagai mitra pembangunan dalam memperkuat pendidikan berkelanjutan di Indonesia. Bagus

Baca juga  Kemendikdasmen Dorong Kolaborasi di Asia Tenggara, Perkuat Kebijakan Pendidikan Berbasis Riset

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *