Kasus HIV di Sidoarjo Meningkat, Kemenkes Lakukan Supervisi

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan meningkatnya jumlah kasus HIV di Kabupaten Sidoarjo merupakan dampak dari semakin luasnya layanan deteksi dini. Sehingga lebih banyak masyarakat mengetahui status kesehatannya dan dapat segera memperoleh pengobatan.

Pernyataan tersebut disampaikan dr. Andi Saguni Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes menyusul tingginya perhatian publik terhadap pemberitaan mengenai kasus HIV pada anak dan remaja di Sidoarjo.

“Kami mengajak masyarakat untuk memahami informasi secara utuh dan tidak menimbulkan stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV). HIV merupakan penyakit kronis yang dapat dikendalikan melalui terapi antiretroviral,” kata Andi dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (26/7/2026).

Pemerintah mengingatkan pentingnya menghapus stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV karena sikap tersebut dapat menghambat masyarakat untuk melakukan tes maupun menjalani pengobatan.

Baca juga  Khofifah Optimis Kopi-Kakao Jatim Tembus Pasar Internasional

Kemenkes menilai dukungan keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas menjadi faktor penting dalam mencapai target global serta mengakhiri epidemi AIDS pada 2030.

Berdasarkan data situasi HIV Kabupaten Sidoarjo, sejak 2001 hingga Juni 2026 tercatat sebanyak 1.183 kasus HIV kumulatif ditemukan pada kelompok usia 0–24 tahun.

Menurut Andi, peningkatan jumlah kasus yang teridentifikasi dari tahun ke tahun tidak bisa langsung dimaknai sebagai meningkatnya penularan HIV.

“Berdasarkan data situasi HIV Kabupaten Sidoarjo, sejak tahun 2001 hingga Juni 2026 telah ditemukan 1.183 kasus HIV secara kumulatif pada kelompok usia 0-24 tahun. Peningkatan jumlah kasus yang ditemukan dari tahun ke tahun berlangsung seiring dengan semakin luasnya cakupan layanan tes HIV di fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun layanan berbasis komunitas,” ujarnya.

Baca juga  Gubernur Khofifah Dorong UMKM Jatim Naik Kelas dengan Perkuat Jejaring Pasar Global

Ia menambahkan, semakin banyak kasus yang ditemukan justru mencerminkan efektivitas upaya deteksi dini yang dilakukan pemerintah bersama berbagai mitra.

Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes telah melakukan supervisi program HIV di daerah tersebut.

“ini sebagai tindak lanjut atas tingginya perhatian masyarakat terhadap pemberitaan mengenai kasus HIV pada anak dan remaja di Kabupaten Sidoarjo,” kata Andi.

Supervisi dilakukan untuk mengklarifikasi dan memverifikasi data yang beredar, termasuk melalui kunjungan ke Delta Crisis Center (DCC) sebagai salah satu sumber data yang menjadi rujukan dalam pemberitaan.

Selain memeriksa validitas data, tim juga mengevaluasi pelaksanaan program pencegahan, deteksi dini, pengobatan, serta pendampingan bagi Orang dengan HIV (ODHIV), sekaligus memperkuat koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo.

Baca juga  Khofifah ke Indo Market Hongkong, Dorong UMKM Jatim Perluas Akses Pasar Global

Seluruh ibu hamil didorong menjalani tes HIV sebagai bagian dari pelayanan antenatal terpadu. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan positif HIV, ibu hamil dapat segera memperoleh terapi antiretroviral (ARV) sehingga risiko penularan kepada bayi dapat ditekan hingga di bawah 2 persen.

“Mengetahui status HIV sejak dini merupakan langkah penting untuk melindungi diri sendiri, pasangan, dan keluarga,” ujarnya.

Ia menegaskan HIV dapat dikendalikan melalui pengobatan ARV yang diminum secara rutin sehingga orang dengan HIV tetap dapat hidup sehat, produktif, dan beraktivitas seperti masyarakat pada umumnya. (Ym)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *