Kementerian Kesehatan membekali jamaah haji Indonesia dengan risiko kesehatan yang tinggi dengan wristband berbentuk seperti smart watch.
“Dari 100.051 calon haji, 3.000 jemaah yang berisiko tingginya berat yang akan dipasang wristband. Di kloter sekarang ada 12 orang yang dipasangkan wristband,” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Budi Sylvana dikutip majalahnurani.com dari Kemenkes, Selasa (7/6).
Wristband ini berfungsi sebagai ‘alarm pertolongan’ yang terhubung dengan aplikasi TeleJemaah pada smartphone masing-masing jemaah haji. Telejemaah bisa memudahkan jemaah jika membutuhkan bantuan darurat dengan akurasi kurang lebih 4 meter.
Sejauh ini, aplikasi TeleJemaah baru tersedia untuk ponsel Android. Budi menjelaskan wristband dibekali data kondisi kesehatan jemaah haji yang didapat melalui infra merah. Data itu kemudian terhubung ke TeleJemaah dan Tele Petugas secara otomatis. Pemantauan terhadap indikator kesehatan tersebut menjadi parameter dalam pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Terdapat 12 item di dalam menu TeleJemaah yang bisa digunakan jemaah haji, yakni Input Data Kesehatan, Informasi Vaksinasi, Informasi Obat yang Dibawa, riwayat Pemeriksaan, tabel Data Kesehatan, Kontak Petugas, Informasi kesehatan, serta prakiraan cuaca.
“Jadi kalau vital sign naik, misalnya saturasi oksigen turun, akan ada komunikasi dengan petugas yang terdekat langsung respons,” jelas Budi. Bagus






