Lingkungan Karanglo, Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari Kota Mojokerto dinobatkan oleh Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, sebagai kampung lele. Di lingkungan ini ada 14 kepala keluarga yang menjadi anggota Kelompok Budidaya Ikan lele (Pokdakan) Wahyu Lele 2 dengan total jumlah kolam lebih dari 42 kolam bundar.
Totok Winaryo (46) Ketua Pokdakan Wahyu Lele 2 menceritakan, kelompok pembudidaya ini berdiri 8 bulan yang lalu. Awalnya Totok tergabung dalam budidaya lele di Kube (Kelompok Usaha Bersama). Setelah merasa sudah mampu, ia mengundurkan diri dari Kube dan membuat kelompok budidaya sendiri. Totok juga mengikuti pelatihan dan pembinaan budidaya lele di Jombang hingga berhasil.
“Alhamdulillah kita berhasil, otomatis tetangga-tetangga mulai mengikuti kita dan kita kasih arahan. Alhamdulillah banyak yang mengikuti sekarang anggota sudah banyak, kolam bioflok juga banyak sehingga kita naikkan kampung Karanglo sebagai kampung lele. Sampai saat ini ada 14 anggota, tapi ini anggota tambahan lagi masih proses, kolam lebih dari 42 unit,” ujar Totok di rumahnya Karanglo I nomer 35, Wates, Magersari Kota Mojokerto, Sabtu (18/2/2023).

Dalam budidaya ikan lele, Totok menggunakan sistem bioflok dengan pakan full pelet (buatan pabrik). Dalam sistem bioflok ini kualitas air kolam sangat terjaga sehingga kolam tidak berbau dan ikan lele dapat tumbuh maksimal. Sistem Bioflok ini juga mampu memangkas masa panen lebih cepat.
“Untuk ukuran tebar bibit lele 3 cm paling lama masa panen 2,5 bulan. Sedangkan ukuran 5-6 cm paling lama masa panen dua bulan. Lele jenis berlian. Keunggulannya lebih cepat besar. Pakan full pelet tanpa ada tambahan pakan lain. Kalau pakai ayam tiren (bangkai ayam), gilingan daging, atau sosis itu bagi kelompok kita hukumnya haram, jadi full pakan pelet,” terangnya.
Keunggulan lele dari hasil budidaya kelompok Pokdakan Wahyu Lele 2 ini juga terlihat dari rasanya yang lebih gurih . Dagingnya padat sehingga ketika digoreng tidak kempes dan tetap utuh tidak mengecil. Untuk penjualan, Totok mengklaim tidak ada kendala. Ia punya beberapa tengkulak langganan, dan rumah makan atau warung yang rutin order setiap hari. Selain itu pemasaran dilakukan juga melalui online seperti facebook dan instagram.
“Harga satu kilogram lele segar di tengkulak Rp18.500, untuk tetangga harga Rp20.00/kg. Isi 8-10 ekor. Kalau dikemas menjadi lele siap goreng (Lesgo) dijual Rp14 ribu untuk setengah kilogram,” imbuh Totok.

Selain dijual dalam bentuk lele segar, Pokdakan Wahyu lele 2 ini juga membuat olahan makanan dari lele, seperti Kentucky lele, Lemper isi daging lele, pastel isi lele, dan olahan masakan seperti mangut, rica-rica lele. Kalau produksi pengolahan lele itu diserahkan kepada ibu-ibu. Jadi bapak-bapak pembudidaya. Nanti kita buat kelompok-kelompok sendiri,” terang Totok.
Menurut Totok, minat masyarakat terhadap konsumsi ikan lele di Kota Mojokerto cukup tinggi karena harganya terjangkau. Dengan jumlah anggota 14 pembudidaya dan kolam lebih dafri 42 unit, total dalam sebulan kelompoknya mampu panen sampai 5 ton lele.
“Kalau bulan depan ini mencapai 5 ton. Tapi kita tidak langsung panen sekaligus keseluruhan , kita buat parsial (Bertahap), jadi bisa berjalan terus setiap hari. Ada yang tebar 5 ribu bibit, 3 ribu bibit, 6 ribu bibit, dan 8 ribu bibit. Kalau kita tebar 5 ribu bibit itu keuntungan bersih hampir 50 persen,” tegasnya.
Masih kata Totok, salah satu kendala yang dialami anggotanya adalah kehabisan pakan. Jika itu terjadi biasanya pembudidaya akan menjual harta benda demi membeli pakan. Kendala lainnya, pompa air yang ukuran kecil. Dijelaskannya, di sistem bioflok ini diharuskan rutin membuang sebagian air dan mengganti dengan air yang baru sebanyak dua kali sehari. Nah, jika pompa air kecil maka pengisiannya akan lebih lama sehingga kotoran lele yang menjadi amoniak membuat air menjadi kotor.
“Akibatnya nafsu makan lele berkurang dan lemas. Air di sini melimpah. Cuma kadang kendala di pompanya,” terangnya.

Totok mengaku bersyukur sejauh ini mendapat dukungan dari Wali Kota Mojokerto, Dinas Ketahanan Pangan, pihak kecamatan dan kelurahan. Pihak-pihak tersebut ke depan mendorongnya agar bisa membuat pakan sendiri dan memperbesar produksi olahan lele.
Bagi totok, saat ini ia fokus membesarkan kelompoknya. Ia juga berharap ke depan akan ada pinjaman pembiayaan untuk kelompoknya.
“Untuk menambah jumlah kolam dan pakan. Mengembangkan kolam lebih banyak lagi,” pungkasnya. Ym






