Direktorat Pendidikan Diniyah Pontren Ditjen Pendis Kemenag dan Wahid Foundation menggelar Workshop Komunitas Pesantren bertema Mentradisikan Toleransi dan Keindonesiaan dari Pesantren. Kegiatan ini digelar di Bogor, mulai Rabu-Jumat, 17-19 Juli 2019.
TUNJUKKAN JATI DIRI
Dalam siaran pers Nadhlatul Ulama yang diterima majalahnurani.com Kamis (18/7/2019), Direktur Wahid Foundation, Zannuba Arifah Chafsoh Rahman Wahid alias Yenny Wahid, menjelaskan bahwa santri dan alumni pesantren sudah saatnya menunjukkan jati diri.
“Ini bukan dalam rangka ujub, takabbur, atau menyombongkan diri. Namun, lebih kepada bagaimana memberi arah perubahan kepada dunia atas pemahaman Islam moderat yang dipelajari di pesantren,” ujar dia.
Yenny berharap santri bisa merepresentasikan masa depan. Menurutnya, di tangan generasi penerus bangsa dunia akan nyaman ditinggali atau justru menjadi tempat konflik yang makin mengerikan.
Yenny menegaskan pentingnya peran santri terutama melihat antusiasme masyarakat dunia terhadap pesantren.
“Perhatian mereka sekarang ini tidak main-main. Orang-orang luar negeri yang belajar ke sini banyak sekali,” tandas Yenny.
PENERANG DUNIA
Perempuan yang juga anggota pendiri Global Council for Tolerance and Peace, sebuah konsil dunia yang mengampanyekan toleransi dan perdamaian ini memandang sudah sewajarnya jika para santri Indonesia menjadi penerang bagi dunia. Menurut Yenny, dunia yang dihadapi para santri milenial sangat membingungkan bagi generasi tua.
“Tapi bagi kalian mungkin jauh lebih mudah untuk mengelolanya. Soal medsos misalnya, buat kami para orang tua ini sangat struggle (perjuangan) untuk memahaminya. Karena sudah biasa tiap harinya memakai gadget, smartphone, untuk melancarkan kehidupan sehari-hari,” sergahnya.
Perubahan, lanjut dia, adalah sebuah hal yang menjadi ciri kehidupan kita sekarang dan ke depan. Perubahan itu konstan terjadi. Hanya orang-orang yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan itulah yang akan survive (bertahan hidup). Termasuk bagaimana mengatasi kebisingan dan kebingungan yang ditimbulkan oleh medsos.
“Baru-baru ini kita baru saja melewati hajatan besar berupa Pilpres, di mana tiap hari kita diharu biru. Perasaan kita tiap hari diaduk-aduk oleh medsos. Awalnya teman karena beda pandangan lalu unfriend. Yang keluar dari grup banyak sekali. Kita dikotak-kotak hanya dalam angka. Kalau tidak 01 ya 02,” terang Yenny.
“Pernahkah kita berpikir bahwa konten-konten pengadu domba itu diproduksi oleh orang yang sama. Nggak usah dibayangkan, karena memang begitu keadaanya,” tegasnya disambut tawa hadirin. Bagus






