ASPHIRASI ungkap Penyebab Ratusan Jemaah Umrah Gagal Berangkat dari Bandara YIA Yogyakarta

Ketua DPD Aliansi Pengusaha Haramain Seluruh Indonesia (ASPHIRASI) DIY-Solo, Bayu Purnomo Wicaksono menjelaskan duduk perkara ratusan jamaah umrah gagal berangkat dibbandara Yogyakarta Internasional Airport (YIA) Yogyakarta pada Sabtu(27/6/2026).

Menurut Bayu, peristiwa itu terjadi di embarkasi YIA untuk penerbangan carter YIA-Madinah untuk one way Garuda. Pesawat itu sedianya untuk menjemput kepulangan jamaah haji dari Madinah. Karena berangkat ke Madinah dalam posisi pesawat kosong, maka pihak maskapai mengkomersilkan untuk penerbangan umrah secara Carter.

Meskipun berangkat dari bandara YIA, namun travel maupun jamaah berasal dari luar Yogyakarta, ada yang dari Jawa Timur dan dari luar Jawa.

Baca juga  Mulai 1 Juli 2026, Jamaah Umrah dan Haji Khusus Bandara Soetta Wajib Lewat Terminal 2F

“Kemarin penerbangan terakhir dari YIA, dan (ynag gagal berangkat) sempat diinapkan di salah satu hotel di Yogyakarta,” ujarnya, Selasa (30/6/2026).

Bayu mengungkap sejumlah faktor gagalnya jamaah berangkat umrah. Berdasarkan hasil investigasi DPD ASPHIRASI DIY-SOLO pada dini hari di Hotel Ibis YIA serta koordinasi dengan berbagai otoritas bandara, penundaan ini bukan disebabkan oleh pihak maskapai (Garuda Indonesia), melainkan terkait kelengkapan dokumen embarkasi dan regulasi keimigrasian yang sangat ketat demi keselamatan serta legalitas jemaah.

Penyebabnya ada banyak, antara lain jemaah belum vaksin, indikasi ICV/buku kuning palsu, keterlambatan penerbitan visa, hingga terlalu mepet kedatangan jamaah dan harus vaksin dulu sehingga menyebabkan keterlambatan boarding.

Baca juga  ASPHIRASI Imbau Calon Jamaah lebih Selektif Travel Umrah

“Yang gagal berangkat dari travel jatim itu ada 190 pax, mereka ada di hotel Ibis dan dimediasi oleh Kemenhaj untuk segera pindah atau keluar dari situ karena bikin travel dari Yogyakarta itu jelek, padahal mereka dari luar Yogyakarta,” ujar Bayu.

Bayu menjelaskan, di penerbangan itu ada sebagian jamaah yang berangkat, namun ada yang gagal. Kemudian ada informasi diterbangkan keesokan harinya setelah visa dan vaksin beres.

Bayu menilai masalah ini disebabkan sejumlah travel dari luar Jawa nampaknya belum memahami terkait regulasi yang ada di Yogyakarta, dimana BKK yang mengeluarkan buku kuning dan vaksin meningitis-polio itu turun langsung ke lapangan untuk skrining masing-masing jamaah sebelum masuk ke counter chek in.

Baca juga  Wamenhaj Isyaratkan Pemeriksaan Kesehatan Jemaah Haji Tahun Depan Lebih Ketat

“Berbeda dengan di Jakarta dan daerah lainnya. Di CGK Jakarta cenderung longgar. Tapi kalau di yogya ini betul-betul di-scan barcode nya, dicocokkan dan sebagainya,” tegasnya.

Berkaca dari kasus ini, Bayu berharap semua pihak duduk bersama, baik dari BKK, Kemenkes, Kemenhaj, maupun travel agent, sehingga peristiwa ini tidak terulang lagi. (Ym)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *