Indonesia menandatangani Nota Kesepahaman dengan Malaysia untuk ekspor perdana 1.000 ton beras premium. Kerja sama tersebut sekaligus membuka potensi ekspor hingga 200.000 ton beras ke negeri jiran dengan nilai mencapai Rp3,4 triliun.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengatakan ekspor perdana ke Malaysia merupakan perkembangan positif bagi sektor pangan nasional.
“Ekspor beras ke Malaysia yang bersamaan dengan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi optimisme baru bahwa Indonesia semakin berdaulat dalam pangan,” kata Qodari dalam keterangannya Kamis (3/9).
Ia menjelaskan peningkatan produksi memberi ruang bagi Indonesia untuk naik kelas dalam ekosistem pangan global. Proyeksi Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) menunjukkan produksi beras Indonesia pada 2026/2027 mencapai sekitar 38,6 juta ton, meningkat 4,6 juta ton dari 34 juta ton pada 2024/2025.
“Dengan perkiraan konsumsi domestik sekitar 31 juta ton pada 2026, peningkatan produksi tersebut memberikan fondasi yang lebih kuat bagi ketahanan pangan sekaligus membuka peluang pasar ekspor,” ucapnya.
FAO menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia, di bawah India, Tiongkok, dan Bangladesh. Indonesia juga menjadi satu dari sedikit produsen besar yang produksinya terus meningkat.
Qodari menegaskan pemerintah memastikan ekspor ke Malaysia tidak akan mengganggu pemenuhan kebutuhan beras masyarakat.
“Pemerintah tetap mengutamakan kecukupan stok dan stabilitas pangan nasional,” ujarnya.
Saat ini stok beras nasional tercatat sekitar 5,2 juta ton. Dengan ketersediaan tersebut, cadangan beras nasional dipastikan aman hingga Mei 2027.
Meski demikian, Qodari menyebut peluang ekspor bukan sebagai tujuan akhir.
“Yang lebih penting adalah memastikan peningkatan produktivitas berkelanjutan, menjaga harga dan pasokan yang terjangkau bagi masyarakat, memperluas akses pasar, serta bagaimana seluruh pencapaian ini mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya. Bg






