Asosiasi Aliansi Pengusaha Haramain Seluruh Indonesia (ASPHIRASI) memprioritaskan keselamatan jemaah terkait erupsi Krakatau yang mengganggu penerbangan Umrah.
ASPHIRASI
bersama tim mitigasi/task force lintas kementerian terkait erupsi Gunung Krakatau terus melakukan
koordinasi dan pemantauan intensif terhadap dampak erupsi pada operasional penerbangan, khususnya
perjalanan jemaah umrah dari dan menuju Arab Saudi.
Langkah ini diambil untuk memastikan setiap perkembangan di lapangan dapat segera direspons dan
diinventarisasi, terutama terkait perubahan jadwal, pembatalan penerbangan, pengalihan rute maupun
bandara, hingga kebutuhan akomodasi jemaah di area terdampak.
Sekretaris Jenderal ASPHIRASI, Hj. Retno Anugerah Andriyani, menegaskan bahwa fokus utama asosiasi
saat ini adalah keselamatan seluruh jemaah, tanpa mengesampingkan kepastian hak-hak jemaah serta
perlindungan bagi para penyelenggara travel.
“Prioritas kita adalah keselamatan dan kenyamanan jemaah, sekaligus memastikan hak-hak jemaah dan
kepentingan penyelenggara tetap terlindungi,” ujar Hj. Retno Anugerah Andriyani, Ahad (6/9/2026).
Ia menambahkan bahwa kondisi force majeure akibat fenomena alam seperti erupsi membutuhkan respons
dan koordinasi yang cepat dari seluruh pemangku kepentingan.
Karena itu, ASPHIRASI mengimbau
maskapai penerbangan untuk aktif menghadirkan opsi solusi teknis bagi para calon jemaah.
“Kami memahami kondisi ini berada di luar kendali siapa pun. Namun, dalam situasi seperti ini diperlukan
sinergi dan solusi bersama agar jemaah dan pihak travel tidak menjadi pihak yang paling dirugikan.
ASPHIRASI mendorong pihak airlines agar tidak hanya melakukan pembatalan penerbangan, tetapi juga
bersama-sama menyiapkan opsi mitigasi—termasuk kemungkinan perpindahan ke bandara alternatif yang
tidak terdampak, apabila kondisi memungkinkan dan mendapat persetujuan otoritas terkait,” jelasnya.
ASPHIRASI berharap seluruh ekosistem penyelenggaraan umrah, baik maskapai, biro perjalanan, maupun
instansi pemerintah terkait, dapat mengedepankan prinsip keselamatan, pelayanan, serta perlindungan
jemaah dalam mengambil setiap kebijakan teknis.
“Dalam situasi darurat seperti ini, yang kita butuhkan adalah satu koordinasi dan satu tujuan: jemaah
selamat, perjalanan dapat dilanjutkan semaksimal mungkin, dan kerugian dapat diminimalkan bersama,” Pungkasnya. (Ym)






