Sebanyak 8 bandara menghentikan sementara operasionalnya pada Ahad (6/9) imbas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Salah satu bandara yang terdampak yakni Bandara Soekarno Hatta hingga Bandara Radin Inten II Lampung.
Penghentian operasional dilakukan karena potensi dampak abu vulkanik terhadap keselamatan penerbangan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan erupsi gunung api menghasilkan abu vulkanik berupa material halus yang dapat terbawa angin hingga jarak jauh.
Partikel abu vulkanik berpotensi memengaruhi kesehatan, kualitas udara, aktivitas masyarakat, lingkungan, hingga sektor transportasi dan penerbangan.
Dalam unggahan di Instagram, Minggu (6/9), BMKG menyebut abu vulkanik dapat mematikan mesin pesawat.
“Abu vulkanik mengandung serpihan kaca dan batuan tajam. Jika terhisap masuk ke mesin pesawat yang sangat panas, abu akan meleleh dan menyumbat mesin hingga mati,” tulis BMKG.
Selain itu, abu vulkanik juga dapat mengurangi jarak pandang pilot. Gesekan partikel abu dapat mengikis kaca kokpit seperti amplas sehingga buram. Abu juga berpotensi mengganggu sistem navigasi karena dapat menyumbat sensor kecepatan dan ketinggian pesawat.
BMKG menjelaskan abu vulkanik terbentuk saat gunung api meletus secara eksplosif. Materialnya berupa pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran kurang dari 2 mm yang dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer.
Berdasarkan informasi dari PVMBG, VAAC Darwin, dan analisis RGB Citra Himawari-9 per Minggu (6/9) pukul 12.00 WIB, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terbagi dua.
Sebaran pertama bergerak ke arah timur laut-selatan meliputi sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.
Sebaran kedua bergerak ke arah barat daya-barat laut meliputi sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu-Lampung-Banten. bg






