Sebanyak tujuh gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu berdekatan pada akhir pekan lalu. Erupsi diawali Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, Jumat (4/9) malam, dilanjutkan Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Ili Lewotolok di NTT, Gunung Lewotobi Laki-Laki di NTT, Gunung Sinabung di Sumatera Utara, Gunung Dukono di Maluku Utara, dan Gunung Semeru di Jawa Timur.
Ahli Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr M Haris Miftakhul Fajar,M.Eng menjelaskan aktivitas vulkanik dan tektonik tersebut merupakan fenomena biasa yang dipicu tingginya proses kebumian. Ia menyebut letusan bersamaan itu bukan fenomena ‘domino’, melainkan bagian dari dinamika alam akibat aktivitas tektonik regional.
“Fenomena meletusnya beberapa gunung api secara bersamaan itu merupakan bagian dari dinamika alam akibat aktivitas tektonik regional,” terang Haris Senin (7/9).
Haris menerangkan setiap gunung api memiliki karakteristik unik serta siklus erupsi berbeda. Masing-masing gunung juga memiliki sistem dapur magma, proses magmatisme, dan karakteristik tektonik yang independen.
Sebagai contoh, Gunung Semeru dan Krakatau dipengaruhi interaksi lempeng Asia-Australia yang menunjam di bawah Lempeng Eurasia. Sementara Gunung Ibu memiliki sistem tektonik berbeda akibat double subduction. Gunung Lewotolok berada di dekat batas proses subduction yang telah berakhir sehingga menyisakan struktur geologi berupa robekan pada lempeng slab yang tersubduksi dan menjadi pasokan magma.
Ia menggambarkan dapur magma bekerja seperti ruangan berongga besar yang menampung lelehan batuan cair. Kandungan fluida dan uap air di dalam magma memiliki karakteristik mirip cairan bersoda dalam botol tertutup. “Semakin tingginya tekanan gasnya, maka saat jalurnya terbuka akan memicu erupsi terjadi,” tuturnya.
Aktivitas erupsi juga dapat dipicu faktor eksternal seperti guncangan gempa bumi tektonik yang menekan kantong magma yang sudah penuh. Namun hal itu sangat dipengaruhi jarak antara sumber gempa dan kantong magma.
Haris menyebut tingkat aktivitas tiap gunung api bervariasi dan dipantau dalam 4 level, yakni Normal, Waspada, Siaga, dan Awas. Status diukur berdasarkan seismisitas, deformasi bentuk gunung, pengamatan visual kolom asap, serta data geokimia.
Contohnya erupsi GAK didominasi tipe letusan Strombolian hingga Hawaiian yang relatif tidak terlalu besar namun berlangsung hampir 25 jam secara kontinu. Durasi panjang membuat abu vulkanik mencapai ketinggian belasan kilometer dan tersebar ke tenggara wilayah Banten serta barat daya ke Lampung hingga Samudra Hindia. “Hal itu juga bergantung pada lapisan ketinggian angin, sebagaimana terkonfirmasi analisis citra Himawari-9 BMKG,” ujar dosen Departemen Geofisika ITS itu.
Haris menekankan pemahaman karakter gunung api penting untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi dinamika kebumian. Pemahaman tersebut mendukung SDGs poin 11 terkait tata ruang wilayah yang aman dari zona bahaya dan penguatan ketahanan infrastruktur, serta SDGs poin 15 untuk pelestarian ekosistem daratan. Bg






