Press "Enter" to skip to content

Pondok Pesantren Al Fattah Sidoarjo, Mencetak Generasi Berakhlakul Karimah

Yang menjadi kunci utama seseorang selamat dan sukses dunia akhirat yakni bekal ilmu agama. Inilah yang menjadi pedoman di Pondok Pesantren Al Fattah Sidoarjo, Jawa Timur. Karena itu, Al Fattah mencetak generasi berakhlakul karimah dan berwawasan global.

Siapa tak kenal Yayasan Pondok Pesantren Al Fattah Buduran, Sidoarjo? Pesantren yang berkembang pesat ini dilandasi ilmu agama sehingga mampu mencetak generasi penerus bangsa yang berakhlakul karimah, berprestasi dan berwawasan global. Lokasi Al Fattah pun juga mudah dicari. Tepatnya di Dusun Gesing, Desa Banjarsari, Sidoarjo. 

Semua kegiatan di Al Fattah ini didasarkan pada ajaran Islam. Seperti yang diutarakan Kepala SMA Al Fattah, Ustad H Ridwan kepada majalahnurani.com. Setiap santri, kata dia, selalu membiasakan berdo’a setiap mengawali dan mengakhiri kegiatan.
“Shalat fardhu dzuhur berjamaah, tahfidzul Qur’an, Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), muhadhoroh,” ujar dia. 

Muhodhoroh 

Di SMP atau SMA pesantren Al Fattah, santri diwajibkan membiasakan berperilaku 5S, yaitu perilaku salam, senyum, sapa, dan sopan santun. Menurut Ridwan, untuk menumbuhkan akhlakul karimah, Al Fattah memiliki aturan agar santri terbiasa berperilaku jujur, tanggung jawab dan disiplin melalui penegakan tata tertib.
“Karena memang seperti visinya untuk mencetak kader berakhlak dan berwawasan global,” sambungnya.
Lalu apa yang menjadikan Al Fattah ini istimewa? Rupanya pesantren Al Fattah ini mempunyai ciri khas. Misalnya pada saat santri belajar quran dan hadis, mereka tak hanya sekadar membaca saja. tapi juga diajari memahami makna, pengertian. 

“Dan juga bagaimana mengamalkannya,” urai Ridwan. 

Satu lagi keunggulan dari Pesantren Al Fattah yakni kelas muhadhoroh. Inilah program belajar yang membuat pesantren Al Fattah banyak menjuarai ajang kompetisi pidato. Muhadhoroh merupakan pidato singkat yang dilaksanakan seminggu sekali. tiap santri bisa mengikutinya. 

”Tradisi ini dilakukan santri ketika praktik dakwah lapangan. Dan sudah ada sejak pondok pesantren berdiri. Dengan begitu, santri ketika berdakwah juga tak hanya sekadar ngaji, tapi juga menguasai bahasa asing,” pungkas dia.01/ Bagus

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *