Press "Enter" to skip to content

Menikmati AC Jerami  Saat Puasa di India

Hari ini, Kamis (17/5/2018) India juga menjalani hari pertama puasa. Ini merupakan tahun ketiga bagi Prof Tjandra Yoga Aditama yang kini bertugas menjadi Senior Adviser di WHO South East Asia Regional Office di New Delhi, menjalani ibadah puasa di India.

WAKTU PUASA LEBIH LAMA

Prof Tjandra yang menjadi salah satu narasumber serta aktif menulis artikel di majalahnurani.com, ini berbagi kisah pengalaman menjalani puasa di hari pertama di New Delhi.

“Tentu ada, dan cukup banyak perbedaan dengan situasi di tanah air,” begitu cerita Prof Tjandra.

Pertama, besok “end of sehri” (istilah di India untuk atau akhir waktu sahur) adalah jam 03.59. Yang pada akhir puasa 15 Juni 2018, bahkan akan pada jam 03.47.

Sementara itu, “iftar” atau waktu berbuka hari ini adalah pukul 19.07 sore/malam. Dan pada akhir puasa 15 Juni 2018, bahkan akan pada jam 19.20.

“Artinya, rentang waktu puasa akan lebih lama dari di Tanah Air,” urai Prof Tjandra.

SUHU 45 DERAJAT CELCIUS

Diakui Prof Tjandra bahwa memang banyak juga negara yang rentang waktu puasanya lebih lama daripada di Tanah Air, tetapi di India, tantangannya tak hanya waktu tapi juga badai.

Baca juga  Di Tengah Wabah Corona, Muhammadiyah Imbau Masyarakat Tak Mudik

“Hari-hari ini sedang ada badai debu “dust storm”, angin berhembus amat kencang disertai debu, dan menelan banyak korban jiwa. Berita CNN antara lain menyebutkan “India dust storms: More than 110 killed – CNN”. Kemarin beberapa pohon di dekat rumah saya juga pada bertumbangan, padahal mobil di New Delhi ini banyak yang di parkir di bawah pohon karena sebagian besar rumah tidak memiliki garasi,” ungkap dia.

Prof Tjandra yang juga mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) dan Mantan Kepala Badan Penelitian & Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementarian Kesehatan RI, ini memaparkan masalah ke tiga adalah panasnya cuaca di India. Hari pertama puasa ini suhu New Delhi 41° C. Ramalan cuaca menunjukkan bahwa pada 26 Mei 2017 suhu akan 45° C, entah akan berapa derajat nanti di bulan Juni.

“Untungnya, masih untung juga, pada akhir Mei ini saya akan bertugas ke Tokyo, jadi saya pikir dapat menghindari panas kota New Delhi beberapa hari. Tapi ternyata ada tantangan lain yang akan saya hadapi di Tokyo, yaitu waktu subuh di awal Juni adalah jam 02.50an pagi….! Jadi memang lain tempat lain tantangannya, semoga semua membuat ibadah di bulan Ramadhan ini barokah, dimanapun tempatnya,” tuturnya.

Baca juga  Update Positif Corona 16 Oktober: Bertambah 4.301, Total 353.461 Orang

SUARANYA BISING

Ada kisah menarik bagi Prof Tjandra.  Di cuaca panas saat Ramadhan ini, di India pendingin ruangan jadi laku keras. Tapi tentunya pendingin ruangan ini buka AC pada umumnya. Ini AC Jerami.

“Pada dasarnya alat ini disebut cooler. Berbentuk kotak dari semacam jaringan kawat, dinding dan isinya ada lempengan jerami dan didalamnya dimasukkan air. Kalau AC biasa sudah tidak dingin maka kita akan ganti Freon nya, maka di AC jerami ini terpaksa ganti jerami,” ungkapnya.

Salah satu foto diatas ini adalah foto di Masjid Aligarh Muslim University, 130 km dari New Delhi. Prof Tjandra mengamati, di sepanjang jalan dapat ditemui orang menjual lempengan jerami untuk cooler ini. Kalau alat ini dihidupkan maka memang akan terasa sejuk, walaupun tentu tidak seperti AC.

“Tapi suaranya bising banget, salah seorang mahasiswa Indonesia kandidat S 3 di Jawaharlal Nehru University (JNU) menggambarkannya seperti suara helikopter…!” ujar Prof Tjandra.

KADAR POLUSI UDARA

Di awal puasa ini, Prof Tjandra melanjutkan ceritanya, kantor WHO SEARO pindah ke lokasi baru, dan butuh waktu 15 menit untuk jalan kaki ke Masjid terdekat.

Baca juga  Universitas Al Azhar Kairo Beri Beasiswa Santri NU

“Saya sudah coba jalani sih, rute nya enak saja, lewat toko toko suvenir dll. Tapi panasnya itu memang amat sangat menyengat sekali,” imbuhnya.

Prof Tjandra mengungkapkan, data dari Breathelife (WHO & UNEP) menunjukkan kadar polusi udara di New Deli adalah 14,3 kali lebih buruk dari kadar aman, ditandai dengan kadar PM 2,5  di kota ini adalah 143 µg/m3.

Sementara batas aman menurut WHO adalah hanya 10 µg/m3. Sebagai gambaran, data Breathlife menunjukkan kadar PM 2,5 di Jakarta adalah 45 µg/m3. PM 2,5 menunjukkan ukuran “particulate matter” (partikel di udara) sebesar 2,5, cukup kecil sehingga akan masuk langsung ke dalam paru manusia.

“Semoga ibadah puasa kita semua di bulan Ramadhan ini mendapat Rahmat dan Berkah dari Allah SWT,” doa Prof Tjandra menutup kisah pengalamannya di New Delhi.01/ Bagus

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *