by

12 Tahun Menabung, Penjual Susu Keliling Naik Haji

 

Siang itu, Jumat (27/7/2018) rumah Muadji (62) dan istrinya, Cholifah (59), nampak sepi. Rupanya penjual susu sapi keliling ini sudah berangkat menuju Embarkasi Asrama Haji Surabaya.

“Iya mas, tadi berangkat,” kata Sulikah, tetangga sebelahnya kepada majalahnurani.com

DAFTAR TAHUN 2006

Sulikah membenarkan jika setiap harinya, Muadji berkeliling menjual susunya hingga mampu berangkat haji.

Pasutri yang beralamat di Jalan Citra  Kancil RT 4 RW 1, Desa Sidokeping, Buduran, Sidoarjo itu menuju ke Tanah Suci dengan kloter 74.

Sebelumnya, Muadji bercerita, keinginan naik haji itu sekitar 20 tahun lalu. Dalam hatinya dia hanya berniat dan berusaha saja. Sementara akal pikirannya kadang berkata bahwa itu tak mungkin terjadi.

Baca juga  KSP Tegaskan Pemerintah tak Antikritik Terkait Penanganan Corona

Awalnya Muadji menuturkan niat hajinya itu ke sang istri. Beruntung akhirnya Cholifah memberi semangat Muadji untuk menabung. Sehari- hari Muadji menyisihkan uang 10 ribu dari hasil berjualan.

“Modal awal daftar dulu pas dapat arisan tabungan jualan susu,” ceritanya.

Muadji mendaftar haji tahun 2006. Setelah daftar, dia mendapat nomor porsi keberangkatan. Memang saat itu sungguh masih lama. Namun hal tersebut malah memicu Muadji makin banyak menabung dari hasil jualan.

“Jadi setelah daftar, tiap hari harus menabung,” imbuhnya.

Menunggu 12 tahun bukan hal mudah bagi Muadji. Sebab dia harus menjaga fisiknya. Dan akhirnya pasutri ini pun bersyukur hari yang dinanti tiba.

“Alhamdulillah pasti senang. Nunggu 12 tahun akhirnya jadi tamu Allah,” sambungnya.

Baca juga  Hangatnya Perbincangan Dinasti Politik Pilkada

LATIHAN LARI

Selain berjualan susu, Muadji juga dikenal sebagai imam di Musholla Baitul Amin, dekat rumahnya.

Setiap hari dia mampu menjual  30 liter hingga 45 liter susu. Susu itu dikrmas ke dalam plastik 1/5 literan.

“Keuntungan dari penjualan susu sapi ini tidak banyak, hanya Rp 30 ribu hingga Rp 45 ribu perhari. Alhamdulillah dengan pertolongan Allah ternyata bisa berangkat ke Tanah Suci,” ungkapnya.

Soal persiapan fisik, kata Muadji, memang jauh-jauh hari latihan. Dia tahu persis jika ibadah haji yakni memerlukan fisik yang kuat. Untuk itu, pasutri ini selalu menyempatkan berlari selama 15 menit usai shalat Subuh.

“Istri saya Insya allah kuat, karena setiap pagi ke sawah pulang siang. Kemudian habis sholat Ashar ke sawah lagi,” pungkas dia. 01/Bagus

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed