by

Gelar Muktamar, Pemuda Muhammadiyah Pilih Ketua

Pemuda Muhammadiyah menggelar Muktamar XVII di Yogyakarta pada 26-28 November 2018. Muktamar ini tujuannya mencari Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, yang kini jabatan tersebut masih diduduki Dahnil Anzar Simanjuntak.

DEMOKRASI

Di hari kedua, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla bahwa saat ini tahun politik

“Maka demokrasi cara kita memilih pemimpin yang baik. Saya menghargai Muhammadiyah pilih yang terbaik, bukan memilih yang paling keras atau hebat kampanyenya,” tuturnya kepada pers.

Jk menganggap Ketua Umum PP Muhammadiyah memberikan kesempatan untuk memilih yang baik, dan merupakan demokrasi yang baik.

“Demokrasi bukan angka saja tapi memajukan bangsa ini. Bukan hitung-hitungan saja, tapi memajukan bangsa ini. Itu yang menjadi hak politik masyarakat,” terangnya.

Baca juga  PBNU dan PP Muhammadiyah Sepakat Jaga Kedamaian di Tengah Perbedaan Politik

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, mengakui bahwa dalam politik tidak ada yang baru di Muhammadiyah. Sejak zaman KH Ahmad Dahlan hingga sampai kapan pun.

Menurut dia Muhammadiyah berdiri di atas kepribadian dan khitahnya.

“Berusaha menjaga jarak dengan pergumulan politik,” tuturnya kepada majalahnurani.com.

Di muktama ini ada enaam orang yang mendaftar sebagai kandidat. yakni Andi Fajar Asti, Muhammad Sukron, Faisal, Sunanto, Ahmad Labib, dan Ahmad Fanani. Sesnagkan Dahnil, urutan kandidat yang kinijadi sorotan, lantaran terseret kasus dana Apel dan Kemah Kebangsaan Pemuda Indonesia di Prambanan di tahun 2017 yang lalu.

BERSIH-BERSIH

Mantan Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ahmad Rofiq menandaskan, Muktamar sudah menjadi momentum tepat untuk bersih-bersih.
Menurutnya, nama-nama yang sudah bersinggungan dengan urusan dugaan korupsi, sudahmasuk moral. Tinggal bagaimana para kader saja di muktamar memutuskannya.

Baca juga  Ulama Internasional Serukan Negara Islam Bantu Korban Gempa di Sulbar

“Menurut saya bila ada kesalahan sedikit saja soal pengelolaan, maka secara otomatis panitia pemilihan itu harus memberikan ketegasan soal pencalonan ini. Layak atau tidak layak. Dan peserta muktamar juga bisa menyampaikan aspirasi. Kita enggak bisa membiarkan kebatilan itu terus menerus berjalan. Sementara kebatilan itu ada di depan mata kita,” tegasnya. 01/Bagus

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed