Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk serangan militer AS yang menewaskan Komandan Pasukan Quds pada Garda Revolusi Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani. Soleimani tewas bersama komandan milisi Hashed al-Shaabi — milisi Irak pro-Iran, Abu Mahdi al-Muhandis karena pembunuhan berencana presiden AS.
Dalam siaran pers yang diterima majalah nurani.com Senin (6/1/2020) Sekjen MUI Anwar Abbas mengutuk keras pembunuhan terhadap Jenderal Iran, Qasem Soleimani yang tewas bersama pemimpin milisi Hashed al-Shaabi, Abu Mahdi al-Muhandis, di Bandara Internasional Baghdad Irak yang diserang dengan rudal dari drone AS.
“Srangan AS terhadap Soleimani akan memicu ketegangan dan ancaman baru. Iran tidak tinggal diam dan akan melancarkan pembalasan yang menimbulkan petaka besar,” ungkapnya.
Memantik Ketegangan
Pembunuhan yang dilakukan secara terencana oleh pemerintah AS ini, kata Anwar, tentu jelas akan memantik ketegangan dan ancaman baru karena jelas pemerintah Iran sebagai negara yang berdaulat tidak akan tinggal diam dan akan melakukan pembalasan terhadap apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah AS tersebut dengan caranya sendiri.
“Yang mungkin saja tidak terperhitungkan kapan dan bagaimana bentuknya oleh AS dan negara lain sehingga tidak mustahil hal demikian akan bisa menimbulkan bencana dan malapetaka yang jauh lebih besar lagi,” imbuhnya.
Tidak Gunakan Kekerasan
Atas kejadian ini, MUI meminta Amerika dan negara adikuasa lainnya tidak menggunakan cara-cara kekerasan dan tidak beradab dalam menyelesaikan masalah. Menurutnya, cara-cara itu bisa menimbulkan masalah baru yang lebih rumit.
“Sehingga selain tidak mudah untuk menyelesaikannya, juga akan bisa menyeret dan merusak kehidupan rakyat dan masyarakat di negara lain karena naiknya harga minyak dunia dan terganggunya perdagangan internasional yang ada,” tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, serangan udara AS di Baghdad, Irak, menewaskan Soleimani yang menjabat Komandan Pasukan Quds pada Garda Revolusi Iran. Total lima personel Garda Revolusi Iran dan lima anggota milisi Hashed al-Shaabi yang pro-Iran tewas dalam serangan yang dilancarkan oleh drone militer AS di luar kompleks Bandara Internasional Baghdad pada Jumat (3/1) pagi waktu setempat.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan dirinya memerintahkan pembunuhan Mayor Jenderal Qasem Soleimani untuk menghentikan perang, bukan untuk memulai perang baru. Diungkapkan Trump bahwa Soleimani sedang merencanakan serangan jahat terhadap diplomat dan tentara AS.
“Soleimani merencanakan serangan segera dan jahat terhadap para diplomat dan personel militer Amerika tapi kita menangkapnya saat beraksi dan mengakhirinya,” ucap Trump. 01/Bagus






