Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerapkan standarisasi kompetensi dai yang dihadiri 80 pendakwah di Tv pada Kamis (5/3/2020).
Perdebatan
Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Cholil Nafis menjelaskan poin penting yakni dai diminta menjauhi isu-isu kontroversial yang menimbulkan perdebatan.
“Jangan masuk di ranah yang kontroversi, debatable,” tuturnya dalam keterangan pers.
Menurutnya ketika masuk ke ranah kontroversi, maka menimbulkan kurang nyaman, kontraproduktif. Efeknya yakni dakwah malah jadi kebencian, karena dianggap menyinggung salah satu pihak.
Standarisasi
Cholil menguraikan standarisasi ini dibuat agar setiap dai memiliki paradigma yang sama. Standarisasi ini bukan bermaksud untuk membatasi dai berdakwah di televisi.
“Tapi di saat bersamaan, kami juga tidak ingin Tv atau publik disuguhi dengan ustaz yang tidak layak untuk menyampaikan dakwah di layar,” ujar dia.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam standarisasi tersebut.. Pertama, standarisasi ini bertujuan untuk melindungi umat.
Jangan sampai dai tidak memahami atau tidak mengerti tentang ilmu agama. Dai tak boleh menyesatkan umat.
“Karena biasanya, saking banyaknya undangan lupa belajar, tapi di depan publik ketika ditanya, itu enggak mungkin enggak jawab, takut dikira bodoh,” jelasnya.
Melindungi Umat
Yang kedua, MUI juga perlu menyatukan persepsi di antara para dai bahwa dalam berdakwah ini memiliki tujuan yang sama, meskipun menurutnya, di antara para dai juga memiliki perbedaan dalam gaya menyampaikan dakwah.
Cholil mengingatkan agar perbedaan gaya dalam berdakwah tidak membuat para dai malah menjadi saling serang. Sebab, menurutnya, tidak sedikit ditemukan kasus saling sindir antar dai.
“Para dai selain menyebarkan ilmu agama juga diminta menyampaikan dakwah-dakwah yang berhubungan dengan kehidupan kebangsaan,” urainya.
MUI berharap dengan standarisasi ini para dai bisa menyatukan langkah bersama dengan bidangnya masing-masing. Standarisasi ini diharapkan agar dakwah tersebut dapat tersampaikan, terealisasi kepada umat.
“Tiga hal ini lah yang kami sebut namanya standarisasi dai. Kami tidak menghalangi, tapi bagaimana kita melakukan tiga hal itu untuk melindungi umat,” tegasnya. 01/ bagus.






