Kabar ditemukannya kasus karyawan Pabrik Rokok Sampoerna di Rungkut Surabaya, yang meninggal karena Corona, membuat perokok bertanya-tanya. Benarkah Corona menular melalui rokok?
Ketua Tim Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Jawa Timur dr Joni Wahyuhadi menguraikan, virus corona merupakan virus baru. Hingga saat ini terus dilakukan penelitian.
Dalam penelitian terkadang disertai percobaan-percobaan. Dalam dunia sains penelitian harus mengikuti kaidah-kaidah ilmiah.
“Virus corona ini baru, meskipun ada nenek moyangnya,” kata Joni saat gelar konferensi pers, Sabtu 2 Mei 2020 malam.
Protein
Joni menjelaskan, virus corona ini merupakan rangkaian protein dibungkus lemak. Mengingat virus bukan makhluk hidup, maka tidak akan bertahan lama dibenda mati. Kalau bukan dibenda hidup, maka virus akan segera mengakhiri hidupnya, karena mereka bukan mahkluk hidup.
“Jadi lemaknya akan mati kalau degradasi,” jelasnya.
Bertahan 4 Jam
Joni menyebut, di banyak artikel kesehatan, disebutkan virus corona mampu bertahan selama empat jam. Seperti di uang, bertahan empat jam, di kardus bertahan selama 24 jam, dikayu dan baju bertahan 2 hari.
“Bertahan besi tahan lebih lama, kulit sekian lama. Semua itu berdasarkan percobaan mereka atau asumsi mereka.
Sementara di artikel lain juga disebutkan bahwa Covid-19 mampu bertahan di plastik selama dua hari dan di gelas empat hari.
“Untuk itu, masyarakat yang melakukan isolasi mandiri harus menggunakan gelas dan piring mandiri. Dicuci dengan sabun supaya lemaknya rusak sehingga bisa hilang,” jelasnya.
Benda Mati
Menurut Joni, dirinya belum pernah melihat multi center study soal masa bertahan virus di benda mati. Dia hanya menyampaikan bahwa makhluk baru tentu perilakunya juga baru.
“Jadi prinsip virus hidup dibenda hidup,” tegasnya.
Joni menerangkan dalam artikel soal virus corona, tergantung subjek dijadikan untuk bertahan hidup. Seperti halnya Covid-19 bisa bertahan di piper rokok selama 3 jam.
“Tapi jangan terpedaya dengan 3 jam, karena ini menurut mereka. Apakah ini benar 100 persen. Tidak, ini asumsi penelitian mereka. Suatu saat nanti ada ilmu hampir mendekati kepastian terkait pencegahan sebaran Covid-19,” tandasnya. 01/Bagus












